Mikroplastik

 
 

Distribusi mikroplastik di perairan semakin mendapat perhatian karena mikroplastik dapat termakan oleh organisme laut. Distribusi mikroplastik di ekosistem laut dipengaruhi baik oleh faktor abiotik (faktor hidrodinamika laut) maupun faktor biotik (Castillo et al., 2016); (Lin, 2016). Mikroplastik tersebut tersebar pada kolom air, di sedimen dekat dengan pantai, dan di sedimen laut dalam (Joesidawati, 2018) atau akan masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi biota yang memakan mikroplastik secara tidak sengaja. Proses degradasinya dapat disebabkan oleh faktor mekanik, mikroba, dan fotodegradasi (Lin, 2016). Mikroplastik yang berada di perairan dapat mengalami degradasi dan perubahan komposisi karena cahaya matahari, radiasi panas, oksidasi, dan pertumbuhan biofilm sinar matahari. Proses degradasi ini menyebabkan perubahan bentuk ukuran menjadi lebih kecil (size reduction), terjadi perubahan densitas dan warna, perubahan morfologi permukaan, dan perubahan kristalinitas (Gambar 2) (Guo & Wang, 2019).

Pakar Teknologi Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri, menyampaikan pentingnya kesadaran dan partisipasi seluruh pihak dalam mengelola sampah.  “Pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada konsep kumpul-angkut-buang, tetapi harus melibatkan semua pihak. Produsen, misalnya, memiliki tanggung jawab untuk mengurangi sampah dengan inovasi kemasan dan model bisnis, contohnya dengan memilih produk dengan kemasan guna ulang yang bisa dikembalikan, termasuk galon guna ulang,” kata Enri pada webinar “Menjaga Kesehatan Lingkungan Indonesia dari Rumah Saat New Normal”, Kamis (11/6). Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar, mengatakan KLHK juga melakukan pemantauan dan pengawasan upaya produsen dalam mengurangi sampah, melalui pengumpulan data jumlah dan jenis bahan baku produk dan kemasan yang mereka gunakan.

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *