Pencemaran yang bersumber dari mikroplastik merupakan salah satu permasalahan global. Sampah plastik masuk ke laut baik secara sengaja maupun tidak disengaja dan akan terdegradasi menjadi mikroplastik. Ukuran mikroplastik yang kecil dan cenderung mengapung di kolom air sehingga mudah termakan oleh organisme laut, salah satunya adalah zooplankton. Mikroplastik yang termakan oleh zooplankton, memberikan dampak negatif baik untuk zooplankton itu sendiri maupun untuk ekosistem. Dampak mikroplastik pada zooplankton mengganggu fekunditas, kapasitas makan, mengganggu sistem pencernaan, kandungan fesesnya serta memberikan efek akut dan kronis. Dampak bagi ekosistem laut memungkinkan terjadinya transfer mikroplastik melalui rantai makanan (trophic transfer) karena zooplankton memiliki peran penting dalam ekologi. Review ini menjadi penting agar dapat memberi informasi kepada para peneliti sebagai dasar dalam pengelolaan dam pengendalian sumberdaya perairan.
Distribusi dan Degradasi Mikroplastik di Perairan
Sampah plastik menjadi salah satu ancaman serius bagi ekosistem laut. Lebih dari 690 spesies laut telah terdampak oleh sampah plastik ini baik yang berukuran puing-puing (debris) maupun yang kecil (mikroplastik) yang teramati di saluran pencernaan organisme dari berbagai tingkatan trofik rantai makanan (Carbery, O’Connor, & Palanisami, 2018).
Mikroplastik banyak ditemukan di wilayah laut yang dekat dengan kegiatan manusia (pesisir dan estuari), termasuk pengeboran minyak dan perkapalan (Castillo, Al-Maslamani, & Obbard, 2016), industri dan pelabuhan (Frias, Otero, & Sobral, 2014). Kandungan mikroplastik tertinggi biasanya ditemukan pada musim penghujan, disaat lingkungan pesisir banyak mendapat masukan air dari sungai yang banyak mengandung fragmen–fragmen dari plastik melalui muara (runoff).






