Distribusi dan Degradasi yang Melukai Lautan (1)
Manado porosnusantara. Com. -Berikut ini adalah bagian pertama dari hasil wawancara journalis dengan peneliti Nancy Tuturoong, ST, MKom. Selasa 8/11/2020. Hasil penelitian telaah pustakanya menyatakan bahwa mikroplastik merupakan zat plastik berukuran sangat kecil, bahkan tak lebih dari beberapa mikron, mulai mengancam kesehatan lingkungan serta biota laut di perairan Indonesia. Mikroplastik sendiri berasal dari polimer beserta zat turunannya seperti polystyrene. Selain polimer, zat ini ternyata juga berasal dari kantong plastik yang biasa kita gunakan, yang secara perlahan-lahan hancur tapi tidak terurai.
Semua sampah plastik yang ada di ekosistem nantinya dapat dipastikan berakhir pada lautan dan mengancam biota yang ada. Bagi biota laut, sampah plastik dapat berakibat fatal. Sebagai contoh seekor penyu yang biasa memangsa ubur-ubur. Ketika berada di dalam air laut, plastik akan terlihat layaknya ubur-ubur dan membuat si penyu akan langsung memakannya.Ketika dimakan biota, plastik akan merusak dan merobek bagian dalam saluran pencernaan (hewan). Bukan itu saja dampak buruk plastik. Ketika plastik berubah menjadi mikroplastik, biota laut seperti plankton dapat memakan zat tersebut. Plankton yang kemudian dimakan oleh ikan dan ikan itu nantinya akan dimakan oleh manusia. Hal ini membuat mikroplastik yang awalnya berada di plankton bisa berpindah ke makhluk lain seperti ikan dan manusia.
Menurut hasil riset, kandungan mikroplastik di Indonesia masih kurang lebih sama dengan kandungan mikroplastik di Samudra Hindia. Diperkirakan, ada sekitar 30 sampai 960 partikel mikroplastik per liter air. Sementara di China ditemukan ada sekitar 17 ribu partikel zat tersebut dalam tiap satu liter air. Meski jumlah mikroplastik di Indonesia masih terhitung sedikit, apa yang ditemukan dalam riset di atas menunjukkan bahwa mikroplastik bisa jadi membawa ancaman dan bahaya tersembunyi, setidaknya pada biota laut.






