Mengubah Kelemahan Jadi Kekuatan
Dia melihat lain. Kendala yang dihadapi adalah insfrastuktur perkuliahan belum memadai sehingga belum menunjang pembelajaran masa kini berbasis revolusi industri 4.0 berbasis pengembangan masyarakat modern berbasis 5.0. “Konektivitas jaringan TIK di kampus Waena dan Abepura yang belum memadai sehingga belum mendukung pengembangan sistem informasi akademik secara optimal. Muatan OTK sudah tidak relevan dengan perkembangan Uncen dan belum terintegrasinya sistem-sistem informasi manajemen yang dimiliki untuk mendukung pengembangan keputusan dan kebijakan,” sebutnya.
Disadari masih banyak program studi yang terakreditasi C, program studi yang belum terakreditasi, dan program studi yang belum mengusulkan akreditasi. Belum maksimalnya upaya-upaya dan hasil-hasil penggalian sumber dana alternatif (revenue generating) untuk menunjang anggaran operasional dan pengembangan kelembagaan.
Oleh karena itu, pelayanan kepada mahasiswa dalam bentuk: pembinaan dan pengembangan soft skill mahasiswa belum memadai; belum adanya layanan dan asuransi kesehatan bagi mahasiswa; koperasi mahasiswa di tingkat universitas belum terbangun. Maka cara terbaik baik adalah memanfaatkan ikatan alumni sudah terbentuk, namun belum berfungsi secara optimal. “Terbatasnya mahasiswa yang memanfaatkan tawaran hibah karya ilmiah secara nasional dan kewirausahaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Fenomena kebebasan mimbar akademik yang kurang terkontrol yang disertai dengan pemalangan kampus yang berdampak pada menurunnya kualitas mutu pendidikan, kompetensi lulusan dan berkurangnya animo mahasiswa untuk masuk ke Uncen ke depan.”
Kelemahan lain menurut Dr. Septinus Saa belum optimalnya jumlah hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal terakreditasi nasional dan internasional bereputasi. “Pendidikan, pelatihan, serta training peningkatan profesionalitas tenaga pendidik dan kependidikan terbatas. Lemahnya kontrol dan pemantauan proses pelaksanaan kurikulum di tingkat prodi oleh Lembaga Penjaminan Mutu sehingga berdampak pada proses dan hasil pembelajaran. Penggunaan teknologi informasi (internet) melalui e-learning telah dilakukan walaupun belum optimal dan selama ini baru tersedia sarana prasarananya di fakultas dan universitas, namun mahasiswa dan dosen melakukannya secara mandiri, serta terbatasnya fasilitas komputer yang terkoneksi ke internet,” sebutnya.
Terbatasnya dosen yang kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran, materi, metode pembelajaran, penggunaan teknologi pembelajaran, dan evaluasi.






