Alasan lain, karena alasan DBD dan demi keamanan karena tindak kriminalitas meningkat, pernah ada perkosaan di angkutan umum, menghilangkan jurang kaya miskin, menutupi perhiasan, bullying, dll.
Dalam hal perkosaan – jika benar dia menyabet gelar doktor, dia harusnya tahu bahwa motif kasus perkosaan bukan karena penampilan dan pakaian – tapi karena kekuasaan. Dan pengendalian diri pelaku.
Perkosaan adalah pemaksaan kehendak dari pihak yang kuat dan berkuasa (powerfull) kepada yang lemah dan tak berdaya (powerless).
Di Arab Saudi, TKI yang tertutup pakaiannya dari ujung kepala hingga kaki banyak juga yang diperkosa oleh majikannya. Karena posisi majikan “powerfull” (kuat, berkuasa). Sedangkan TKI “powerless” (lemah, tak berdaya).
Sopir angkot laki laki di tempat sepi adalah pihak yang kuat (powerfull) dan penumpang perempuan yang sendirian adalah pihak yang lemah (powerless) .
Ada banyak kasus ustadz yang memperkosa santrinya atau pendeta melecehkan jemaahnya, juga bukti bahwa perkosaan lebih banyak dilakukan oleh pihak “powerfull” kepada “powerless”. Motifnya bukan agama dan bukan pakaian. Kurang beragama apa ustadz dan pendeta?
Memangnya di pesantrean dan gereja, santri dan jemaahnya pakai rok mini, tank top, no bra?
TAK KURANG bengkoknya argumen Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno yang pendidikannya S3. Bahkan bergelar profesor. Dia menyebut selama ini penggunaan jilbab di sekolah “tidak ada masalah”.
“Sepuluh tahun saya jadi gubernur tidak masalah, ” katanya. Artinya, diskriminasi terhadap siswi non muslim di sekolah negeri di Sumatera Barat sudah 10 tahun dan dianggap tidak ada masalah.
Dia sebut memaksa non muslim pakai jilbab, memang salah – ” tapi selama ini tidak ada masalah”.






