Menperin menambahkan, pemerintah terus berupaya memacu pengembangan industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global. Hal ini seiring pelaksanakaan peta jalan Making Indonesia 4.0. Selain itu mengoptimalkan produktivitas, terutama industri yang berorientasi ekspor. “Saat ini, kebijakan makro tetap terjaga, dengan komitmen pemerintah melaksanakan paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan,” imbuhnya.
Pada tahun ini, Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,4 persen. Subsektor yang diperkirakan tumbuh tinggi, antara lain industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, serta industri barang logam, komputer dan barang elektronika.
Investasi di industri manufaktur pun diyakini dapat meningkat pada tahun babi tanah ini karena pemerintah telah merilis aturan terkait dengan tax holiday yang mencakup lebih banyak sektor, yaitu melalui PMK 150/2018 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan. Selain itu, kepastian untuk mendapatkan insentif tersebut juga lebih jelas dengan adanya online single submission (OSS).
“Artinya, investor tidak perlu lagi menunggu, bahwa kondisi ekonomi dan politik Indonesia dinilai stabil. Nah,ini kesempatan Indonesia untuk terus memacu investasi, ekspor, dan pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di sektor industri,” tuturnya.
Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw menyampaikan, pertumbuhan aktivitas manufaktur Indonesia pada Desember 2018 merupakan sinyal positif dan menjadi indikator yang baik untuk menyongsong tahun 2019. “Pada survei Nikkei di Desember 2018 menunjukkan adanya tanda-tanda penguatan kondisi permintaan baru meningkat, terutama didorong oleh pasar domestik,” ungkapnya.






