“Kami didampingi guru pembina kami sempat gagal beberapa kali. Karena tidak mudah menemukan proses yang tepat agar limbah sorgum ini menjadi benda padat. Karena daun dan batang sorgum saat dibakar jika tidak menggunakan metode khusus akan menjadi abu tidak menjadi arang,” jelas siswa asal Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng ini.
Namun setelah mendapatkan formula yang tepat, biobriket sorgum hasil penelitian mereka selain ramah lingkungan juga memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan arang kayu atau batok kelapa. Kelebihannya lebih ekonomis. Jika arang kayu atau batok kelapa per kilogramnya Rp 20.000, biobriket hanya Rp 18.000. Selain itu uji ketahanan bara api yang dihasilkan juga lebih lama dua kali lipat. Jika pada arang biasa hanya mampu bertahan 30 menit, sedangkan pada biobriket bara api dapat bertahan hingga satu jam lebih.
Biobriket tersebut setelah menemukan formula yang tepat kemudian diuji kerapatan dan energi yang dihasilkan di Fakultas Peternakan Universitas Udayana (Unud). Atas keberhasilan penelitian itu, kebetulan pada akhir tahun 2021 lalu, diselenggarakan ajang Toyota Eco Youth 12. SMAN Bali Mandara pun mendapatkan undangan khusus untuk mengikuti lomba penelitian bergengsi tingkat nasional ini. Di awal babak penyisihan hanya ada 50 tim peneliti dari 50 sekolah di Indonesia. Puluhan tim ini kemudian diciutkan kembali menjadi 25 tim terbaik.
Mereka langsung masuk ke babak final dan diundang langsung ke Jakarta untuk mempresentasikan hasil penelitian dan produk yang sudah dihasilkan, pada tanggal 15-19 Oktober 2022 lalu. Hasil presentasi dan pameran produk dari tim SMAN Bali Mandara pun akhirnya meluluhkan hati dewan juri dan dinobatkan sebagai Juara I. Mereka pun diberikan reward berupa uang pembinaan sebesar Rp 100 juta.






