“Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita. Bagaimana perempuan sering kali tidak punya ruang aman untuk bersuara saat disakiti, dan betapa beratnya beban seorang ibu yang berjuang sendirian. Saya harap kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang lebih berempati dan lebih baik setelah menonton Beautiful Pain,” tegas Dmaz.
Produser Dapur Film, Hanung Bramantyo, menggarisbawahi pentingnya ketajaman perspektif yang dibawa oleh Dmaz dalam menerjemahkan isu sensitif ini ke layar lebar. “Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Mba Titin Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut,” puji Hanung Bramantyo.
Sementara itu, Executive Producer Nikita Mirzani turut menitipkan pesan khusus yang menegaskan sikap pantang menyerah bagi seluruh perempuan yang hadir malam itu: “Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan.”
Membakar Rasa Malu, Mengubah Trauma Menjadi Sayap Kekuatan
Kekuatan emosional malam Gala Premiere kian terasa nyata melalui instalasi puluhan kertas berbentuk kupu-kupu yang menghiasi lobi Epicentrum XXI. Kupu-kupu tersebut bukan sekadar dekorasi, melainkan ruang katarsis yang memuat curahan hati anonim publik: kisah tentang trauma perselingkuhan, perihnya menjadi korban kekerasan yang disalahkan lingkungan, rasa bersalah seorang ibu tunggal, hingga kalimat afirmasi keberanian untuk sembuh.






