Namun, ujian pasca-perceraian ternyata jauh lebih kejam. Saat berikhtiar mencari nafkah mandiri dan memperjuangkan hak asuh anak-anaknya, Niken justru dihadapkan pada teror pelecehan seksual dan fitnah keji. Bukannya mendapat perlindungan, lingkungan sekitar justru kerap memojokkan, meragukan integritasnya, dan menuntutnya untuk bungkam demi menjaga “nama baik”.
Di titik nadir inilah Niken menolak untuk terus menjadi korban. Ia memilih jalan tersulit: memecah keheningan, bersuara lantang (speak up), dan bertarung melawan stigma demi mempertahankan martabat diri serta hak anak-anaknya.
Aktris peraih Piala Citra Raihaanun tak kuasa menahan haru saat membagikan beban emosional yang ia pikul selama menyelami jiwa Niken. “Setiap orang, setiap wanita, pasti pernah merasakan jatuh dan terjebak dalam jurang yang paling dalam. Niken adalah gambaran nyata wanita-wanita di luar sana yang kuat dan mampu melepaskan masa lalunya yang toxic. Tapi yang paling menyakitkan adalah ketika seorang perempuan sudah berusaha bangkit, ia malah kembali diuji dengan pelecehan dan fitnah di saat orang sekitar justru menyalahkannya. Menjadi ibu tunggal yang berani bicara dan melawan demi anak itu butuh keberanian yang luar biasa berdarah-darah. Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan,” ungkap Raihaanun penuh getar ketegasan.
Sutradara & Produser: Film sebagai Media Pemecah Keheningan
Langkah berani mengangkat tabu pelecehan dan perceraian ini sekaligus menandai debut penyutradaraan layar lebar bagi Dmaz Brodjonegoro. Mengembangkan naskah bersama Titien Wattimena, Dmaz menegaskan bahwa sinema harus berpihak pada korban.






