Porosnusantara.id, Bandung – Gelombang demonstrasi yang meluas di berbagai daerah Indonesia turut menggema di Bandung. buntut dari tuntutan Massa sejak 25 Agustus di Gedung DPR RI dan memumcak mulai tanggal 28 agustus setelah insiden Brimob melindas ojol di lokadi aksi.
sejak akhir Agustus gelombang demonstran meluas, Pada Senin (1/9/2025), ratusan mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) melakukan aksi long march dari kampus menuju Gedung DPRD Jawa Barat. Namun, aksi yang berlangsung sejak sore hari itu berujung ricuh ketika aparat kepolisian menembakkan gas air mata hingga ke dalam lingkungan kampus.
Berdasarkan laporan Suara Mahasiswa Unisba, aksi dimulai pukul 16.00 WIB dengan diikuti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan sejumlah elemen mahasiswa lainnya. Situasi awalnya berjalan kondusif, sebelum ketegangan meningkatsetelah beberapa oknum melemparkan bom molotov di lokasi demo.
Pihak BEM mengakui menyksikan adanya lemparan bom molotov yang memicu polisi bergerak masuk ke area kampus, namun menegaskan bahwa pelaku bukan bagian dari mahasiswa Unisba.
Massa aksi mahasiswa sebetulnya sudah menarik diri dari aksi sejak jam 19.50 dikutip dari suara mahasiswa unisba dalam postingan storynya “kondisi terkini dalam gedung Hj.Kartimi Kridoharsojo. terlihat tim medis sedang mengevakuasi korbanyang terluka dna sesak nafas dari unsur mahasiswa dan umum.
Menurut keterangan resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) dalam konferensi pers di Kampus Utama, Jalan Tamansari No.1, Selasa (2/9/2025), kronologi kericuhan dimulai sekitar pukul 23.30 WIB.

Saat itu, massa aksi beristirahat di depan pagar Unisba, sebagian lagi berkumpul di Aula Hj. Kartimi Kridoharsojo. Tiba-tiba aparat menyerang dari arah atas kampus dan menembakkan gas air mata sekitar dua meter dari gerbang utama.
“Mahasiswa yang berada di luar pagar berusaha masuk ke dalam kampus untuk berlindung, namun polisi justru menembakkan gas air mata ke arah dalam,” jelas perwakilan BEMU dalam konferensi pers yang disiarkan langsung via Instagram.
Beberapa di antaranya mengalami luka sebelum polisi bergerak masuk, sementara 10–20 orang lainnya menjadi korban langsung dari tembakan gas air mata termasuk satpam dan mahasiswa.
BEMU Unisba juga menegaskan bahwa pemblokiran jalan di depan kampus dilakukan semata-mata untuk evakuasi.
Dalam konferensi pers tersebut, BEMU menyampaikan sikap resmi:






