”Laporan The State Global Islamic Economy menyatakan konsumsi fashion muslim dunia saat ini mencapai US$ 270 miliar atau setara Rp 3.830 triliun.
Di Indonesia, konsumsi fahion muslim mencapai US$20 miliar dengan pertumbuhan industri mencapai sekitar 18% per tahun,” ujarTeten.
Mengutip laporan tersebut, ia mengatakan lembaga tersebut juga memproyeksi konsumsi busana muslim akan terus meningkat dengan Iaju pertumbuhan Iima persen setiap tahunnya.
Dengan begitu, konsumsi busana muslim dunia diperkirakan mencapai US$ 361_miliar pada 2023.
”Pelaku fashion harus memanfaatkan potensi ini agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen produk muslim, tetapi juga sebagai produsen,” tegas Teten.Sementara itu, National Chairman Indonesian Fashion Chamber, Ali Charisma, dalam sambutan pembukanya kembali menegaskan peran industri fashion melalui MUFFEST sebagai medium untuk melakukan kampanye ramah lingkungan.
“Semakin hari semakin banyak desainer yang membatasi atau mengurangi sampah hasil industri seperti kain sisa, sampah pewarnaan bahan, dan lain-lain.
Hal ini merupakan komitmen para pelaku industri untuk semakin ramah lingkungan demi masa depan yang lebih baik,” terang Ali.
Acara pembukaan kali ini juga diramaikan dengan fashion dari beberapa desainer yang ambil bagian pada MUFFEST 2020 seperti Olivia Soesanto, Dyah Ayu Wulansari, Cut Eriva, Aji Suropati, Aninda Nazmi, Ray Anjas, Lania Rakhmawati, dan laIn-lam. Gelaran fashion show perdana ini sukses menyita perhatian para pengunjung yang memadati ruangan acara pembukaan.
Sedangkan di Second Stage tengah dilangsungkan juga Press Conference MUFFEST bersama IFC, Dyandra Promosindo, dan para pihak sponsor diantaranya Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecul dan Menengah, BBPLK Semarang, Wardah, Asia Pacific Rayon, UBS Gold, Dauky, Sharp lndonesua, BNI Syariah, Gistex, Evermos, serta Dyandra Promosindo.






