Pemasangan perangkap pengendalian sebanyak 20 perangkap per hektare sementara perangkap pengamatan sebanyak 10 buah dalam luasan 50 hektare. Monitoring populasi lalat buah dilakukan seminggu sekali dengan cara menghitung jumla lalat buah yang terperangkap.
Sri Wijayanti Yusuf, Direktur Perlindungan Hortikultura pada kesempatan terpisah menyampaikan keberhasilan pengendalian lalat buah dapat tercapai apabila dilakukan secara serentak dalam area yang luas.
“Keberhasilan pengendalian lalat buah dapat tercapai apabila dilakukan secara serentak dalam area yang luas dan dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan instansi terkait,” ujar Yanti.
Ditambahkan Irma Siregar, Kasi Sarana Pengendalian OPT Buah dan Florikultura, selain penggunaan perangkap atraktan ME, dapat juga dilakukan teknik pengendalian ramah lingkungan lainnya.
“Kumpulkan buah salak yang busuk terserang lalat buah kemudian dimusnahkan dengan teknik 4 M (Mengubur, Membakar, Membungkus dan Merebus). Selanjutnya kumpulkan buah terserang lalat buah dalam gentong atau drum plastik yang permukaannya ditutup dengan kain kassa,” ujar Irma.
Dengan cara ini, lanjut Irma, diharapkan lalat yang menetas tidak dapat lolos dari gentong namun parasitoidnya dapat terbang bebas. Langkah selanjutnya memanfaatkan musuh alami sebagai upaya konservasi musuh alami dengan menanaman tanaman refugia disekitar kebun salak sebagai tempat hidup parasitoid. Hal terpenting turut melakukan sanitasi kebun secara intensif.
“Untuk mendukung upaya ekspor salak Magelang ke beberapa negara tujuan, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura akan terus mengawal petani secara intensif dalam pelaksanaan pengelolaan lalat buah secara mandiri,” jelas Yanti.






