Poros Nusantara (Kalbar) – Sikap DPRD Kota Singkawang, sejalan dengan aksi unjuk rasa warga masyarakat. Yang merasakan langsung dampak kelangkaan migas. khususnya baru baru ini, kelangkaan bahan bakar solar.
Terlebih kelangkaan solar itu, tak lain merupakan jatah kebutuhan warga masyarakat dalam menjalankan aktivitas rutin maupun usaha mereka.
Mendapatkan kejelasan kongkrit kelangkaan solar di Singkawang, Ketua sementara DPRD Kota Singkawang, Sujianto menyayang, ketidakhadiran pihak SPBU saat audiensi. Padahal penting SPBU lah yang lebih memahami, penyebab terjadinya kelangkaan solar.
“Terdapat 9 SPBU di Singkawang secara resmi kami undang untuk turut hadir memberikan penjelasan kepada warga pengunjuk rasa. Nyatanya tidak satupun pihak SPBU yang hadir. Tentu hal ini menjadi pertanyaan. Dan DPRD Kota Singkawang tetap merasa perlu meminta penjelasan pihak SPBU. Dalam waktu dekat ini DPRD akan memintai penjelasan. Bisa saja DPRD memanggil pihak spbu secara paksa jika tetap tak mau hadir ,” tegas Sujianto , di ruang kerjanya , pasca audiensi dengan penunjuk rasa, Kamis 19 September 2019.
Keterangan sementara yang diperoleh, lanjut Sujianto, kelangkaan solar diakibatkan kabut asap karhutla yang saat ini masih terjadi di kalbar khususnya juga di Singkawang.
Kabut asap menjadi alasan kapal tanker yang mengangkut solar tidak bisa maksimal bersandar, sehingga menghambat bisa sampainya, solar secara tepat waktu ke tempat penghantaran.
Menanggapi alasan terhambat hantaran solar itu, Sujianto mengatakan, pada keadaan cuaca normal pun, biasanya bbm sering langka. Alasan karena kabut asap, ujar dia, rasanya kurang tepat jika dikaitkan dengan kelangkaan solar.
Pastinya menurutnya, ada permainan yang sulit dibuktikan, sehingga kebutuhan subsidi warga masyarakat menjadi langka dan tidak sesuai penyalurannya.






