Pakar Nilai Pemikiran RA Kartini Tetap Relevan di Era Digital, Perempuan Didorong Jadi Pemimpin Perubahan

Porosnusantara.co.id | JAKARTA — Sejumlah pakar dan akademisi menilai pemikiran Raden Ajeng Kartini tetap relevan dalam menghadapi dinamika zaman, khususnya di era digital yang terus berkembang pesat. Hal tersebut mengemuka dalam refleksi Hari Kartini 2026 yang menghimpun pandangan para guru besar dari berbagai perguruan tinggi.

Rektor UNIPI Tangerang sekaligus Sekretaris Jenderal Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER), Francisca Sestri, menyampaikan bahwa gagasan ini dirangkum dari berbagai pandangan tokoh pendidikan tinggi yang dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan dan keilmuan yang kuat.

Menurut Rektor Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, sosok Kartini tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah, tetapi merupakan representasi intelektual yang memberdayakan lintas generasi. Ia menekankan pentingnya kehadiran lebih banyak perempuan yang tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga mengambil peran kepemimpinan yang substansial.

Ova menyebutkan, perempuan masa depan diharapkan memiliki kapasitas intelektual yang kuat, baik sebagai akademisi maupun peneliti yang mampu menghasilkan inovasi dan kontribusi nyata. Selain itu, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis, menjadi kunci dalam menghadapi perubahan global.

“Perempuan ke depan harus memiliki ketekunan, semangat, serta kemampuan menjadi mentor yang memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk berkembang lebih jauh,” ujarnya.

Senada dengan itu, mantan Rektor UGM periode 2017–2022, Panut Mulyono, menilai pemikiran Kartini tetap menjadi sumber inspirasi dalam pembinaan kepemimpinan perempuan masa kini. Ia menekankan bahwa Kartini tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan, tetapi juga nilai keberanian berpikir, integritas, dan visi kemajuan yang inklusif.

Namun demikian, Panut menyoroti tantangan yang dihadapi generasi perempuan saat ini, seperti kecenderungan mencari pengakuan instan, ketergantungan pada validasi media sosial, hingga minimnya ketekunan dalam menjalani proses panjang.

“Nilai-nilai Kartini dapat menjadi dasar untuk membangun kembali budaya proses, disiplin, dan pembelajaran berkelanjutan, sekaligus memperkuat integritas dan kepercayaan diri berbasis kompetensi,” jelasnya.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Hukum dan Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah Prawiraharja, menegaskan bahwa pemikiran Kartini masih sangat relevan dalam kehidupan sosial saat ini. Menurutnya, percepatan perubahan teknologi dan lingkungan menuntut perempuan untuk terus memperbarui kecerdasan dan kapasitas diri.

Ia menambahkan, penguatan nilai budi pekerti yang berakar dari keluarga dan pendidikan tetap menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter perempuan masa depan.

“Perempuan masa kini dan masa depan harus mampu beradaptasi dengan perubahan, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur. Dengan demikian, mereka dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.

Refleksi ini menegaskan bahwa semangat Kartini tidak hanya menjadi simbol perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan penting dalam membentuk perempuan Indonesia yang adaptif, berintegritas, dan berdaya saing di masa depan.

Penulis: AxnesEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *