“Kita tidak datang untuk membuka kembali luka, melainkan untuk memastikan bahwa luka itu tidak pernah dilupakan. Teatrikal ini bukan sekadar seni, tetapi upaya menghadirkan kembali masa ketika kekerasan digunakan terhadap oposisi. Seni membantu kita merasakan apa yang tidak terungkap oleh dokumen,” ujarnya.
Bonnie juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman, budayawan, dan relawan yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
“Terima kasih kepada seluruh seniman, budayawan, dan relawan yang telah membantu suksesnya acara ini. Semoga kegiatan ini menjadi penguat bagi keluarga korban dan pengingat bahwa sejarah akan bermakna jika kita berani belajar darinya,” tuturnya.
Usai pementasan teatrikal, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi Ruatan Kebangsaan yang dipimpin masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, Banten Kidul. Ritual tersebut menjadi simbol pembersihan batin sekaligus doa bersama bagi para korban Peristiwa Kudatuli.
Peringatan kemudian ditutup dengan pertunjukan seni tradisional Ngarengkong dari Kasepuhan Cilebang. Suasana semakin khidmat saat seniman Butet Kartaredjasa membacakan puisi berjudul Melawan dan Berjuang yang membangkitkan kembali semangat perjuangan demokrasi sekaligus menjadi penutup penuh makna dalam peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli.






