Porosnusantara.co.id | JAKARTA – Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas), Silmy Karim, akhirnya menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (3/6/2026) malam, setelah sebelumnya sempat tidak diketahui keberadaannya pasca operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan Imigrasi Jakarta Barat.
Silmy tiba di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 22.40 WIB. Kedatangannya dikawal sejumlah pria berseragam hijau dan langsung menjadi perhatian awak media yang sudah menunggu di lokasi.
Ketegangan sempat terjadi antara pengawal Silmy dengan wartawan. Aksi saling dorong dan adu mulut tak terhindarkan saat rombongan Wamen Imipas itu menuju meja resepsionis KPK.
Saat ditanya awak media terkait kedatangannya, Silmy memilih bungkam dan tidak memberikan keterangan. Usai menyelesaikan proses awal di meja resepsionis, ia langsung dibawa menuju lantai atas Gedung KPK.
“Anak buahnya nggak usah arogan pak, dibina dulu. Kasar banget,” teriak salah satu wartawan di lokasi saat terjadi dorong-dorongan dengan pengawal.
Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan tengah melakukan pencarian terhadap Silmy Karim usai OTT yang digelar di lingkungan Kantor Imigrasi Jakarta Barat pada Selasa malam (2/6/2026).
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan tim masih mencari pihak yang bersangkutan setelah operasi senyap tersebut. Ia juga mengimbau agar para pihak yang terkait bersikap kooperatif.
“Kami mengimbau agar yang bersangkutan bisa kooperatif dan menyerahkan diri ke KPK agar memudahkan proses penanganan perkara,” ujarnya.
Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan total 17 orang, terdiri dari 8 aparatur sipil negara (ASN) dan 9 pihak swasta. Dua orang pihak swasta diamankan di Bali, sementara seorang pejabat negara yang merupakan Kepala Kantor Wilayah Imigrasi Jawa Barat turut diamankan di wilayah Jawa Barat. Sisanya ditangkap di Jakarta dan sekitarnya.
Selain itu, penyidik juga menyita sejumlah barang bukti, antara lain 7 mobil, 15 motor, 11 sepeda, 6 sepeda MTB, 4 sepeda Brompton, serta ratusan gram emas.
OTT tersebut diduga berkaitan dengan kasus suap dalam pengurusan dokumen izin tinggal warga negara asing, yakni Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) dan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS).
Silmy Karim sendiri dikenal memiliki rekam jejak panjang di sektor industri dan pemerintahan. Pria kelahiran Tegal, 19 November 1974 itu pernah menjabat sejumlah posisi strategis, mulai dari Dirut PT Pindad (Persero), Dirut PT Barata Indonesia (Persero), hingga Dirut PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang berhasil membalikkan kinerja perusahaan dari rugi menjadi untung.
Ia kemudian menjabat Direktur Jenderal Imigrasi pada 2023–2024 sebelum dilantik menjadi Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan pada 2024 hingga Juni 2026.
Hingga kini, KPK masih mendalami perkara tersebut dan melakukan pemeriksaan terhadap para pihak yang diamankan dalam OTT.






