Memaknai Peran Wanita dalam Bedah Buku Wanita Berkarir Surga

Porosnusantara.co.id | JAKARTA SELATAN — Komunitas Smart Islamic Community berkolaborasi dengan UKM Studi Dakwah Islam IBI Kosgoro 1957 menggelar kajian rutin bulanan bertajuk bedah buku “Wanita Berkarir Surga” di Kampus IBI Kosgoro, Jagakarsa, Sabtu (18/4/2026).

Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta lintas kalangan. Sejak pagi, sejumlah peserta telah hadir untuk mengikuti rangkaian acara yang dimulai pukul 08.35 WIB.

Acara menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Windy (Mahasiswi Psikologi Islam UIN Salatiga), Dewi (Campus Brand Ambassador IBI Kosgoro dan Jakarta Representative GGI 2026), serta Sarah selaku mentor Smart Islamic Community yang bertindak sebagai keynote speaker. Diskusi dipandu oleh Badria sebagai moderator.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, pembacaan sari tilawah Al-Qur’an, serta penampilan nasyid yang turut memeriahkan suasana. Setelah itu, sesi utama berupa bedah buku dimulai dengan menggali pandangan para pembicara terkait isi dan relevansi buku tersebut.

Windy mengungkapkan bahwa buku “Wanita Berkarir Surga” memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sehari-harinya. Ia menilai buku tersebut memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapinya, khususnya dalam memahami peran perempuan.

Sementara itu, Dewi mengaku mendapatkan sudut pandang baru setelah membaca buku tersebut. Ia menilai isi buku mampu mengubah cara pandangnya terkait relasi antara laki-laki dan perempuan di tengah kehidupan modern.

“Dulu saya memandang kemandirian perempuan sebagai kebanggaan tersendiri. Namun setelah membaca buku ini, saya memahami bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi,” ujarnya.

Pada sesi penutup, Sarah menekankan pentingnya memahami peran perempuan berdasarkan nilai-nilai Islam. Ia menjelaskan bahwa perempuan tidak hanya memiliki posisi penting dalam kehidupan keluarga, tetapi juga berperan besar dalam membentuk peradaban.

Menurutnya, perempuan membutuhkan arah yang jelas dalam menjalani peran, bukan sekadar tuntutan kesetaraan tanpa batas. Ia juga mencontohkan tokoh sejarah Islam seperti Asma binti Yazid yang dikenal sebagai juru bicara perempuan pada masanya.

“Islam memuliakan perempuan sesuai fitrahnya dan menempatkan laki-laki serta perempuan dalam peran yang saling melengkapi, bukan saling bersaing,” jelasnya.

Ia juga mengajak peserta untuk terus memperdalam ilmu, mengamalkannya, serta aktif berdakwah. Selain itu, pentingnya lingkungan pergaulan yang positif turut ditekankan sebagai faktor pendukung dalam menjaga konsistensi.

Kegiatan ditutup dengan pesan reflektif mengenai pentingnya generasi muda memahami jati diri, terutama di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Melalui kajian seperti ini, diharapkan lahir generasi yang mampu berkontribusi positif dalam masyarakat dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Penulis: RedaksiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *