Bela Negara di Era Digital: Insan Pers Dikukuhkan Sebagai Garda Terdepan Informasi Kebangsaan

Dokumnentasi kegiatan sumber : wartawan poros
WhatsApp Image 2025-12-18 at 07.19.31 (2)
WhatsApp Image 2025-12-18 at 07.19.31

Integritas Jurnalistik sebagai Bentuk Bela Negara

Puncak dari pembekalan adalah sesi yang disampaikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tentang “Pentingnya Kesadaran Bela Negara bagi Insan Pers untuk menjaga Sikap Objektif, Independen, dan Bertanggung Jawab.” Sesi ini menautkan langsung prinsip-prinsip jurnalistik dasar—obyektif, independen, dan akuntabel—dengan semangat cinta tanah air.

Seorang wartawan yang menjalankan tugasnya dengan baik, dengan memverifikasi fakta, melindungi sumber yang sah, dan menolak suap atau tekanan untuk memutar narasi, pada hakikatnya sedang menjalankan bela negara. “Pers yang independen adalah pers yang kuat. Pers yang kuat adalah pers yang mampu melindungi kepentingan publik dan kedaulatan bangsa dari berbagai bentuk manipulasi,” ujar perwakilan PWI. Semangat ini selaras dengan tujuan diklat untuk menjadikan insan pers sebagai guardian of national narrative (penjaga narasi kebangsaan).

dokumentasi kegiatan oleh wartawan poros

Diskusi Interaktif dan Komitmen Bersama

Sesi tanya jawab yang dimoderatori dengan apik berlangsung dinamis. Peserta mengajukan pertanyaan kritis seputar tantangan teknis dalam melacak sumber psywar, batasan antara peliputan kritis dan ancaman terhadap keamanan negara, serta bagaimana memperkuat literasi digital di ruang redaksi. Diskusi menghasilkan kesimpulan bahwa diperlukan platform kolaborasi tetap antara Kementerian Pertahanan, BSSN, Kemkominfo, Dewan Pers, dan asosiasi media untuk berbagi early warning mengenai ancaman informasi secara lebih cepat dan terstruktur.

Penutup dan Refleksi: Pers Sebagai Jantung Pertahanan Ideologi

Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat. Plakat cinderamata dan sesi foto bersama menandai dimulainya sebuah jejaring insan pers bela negara yang diharapkan akan terus berkembang. Diklat ini bukan sekadar pelatihan satu hari, melainkan sebuah deklarasi paradigma baru.

Penulis: HengkiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *