Sementara itu, dalam sesi studi kasus pengembangan wisata olahraga, Tarsi Eka Putra memaparkan bahwa pengembangan sport tourism di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pemerataan dampak ekonomi dan sosial. Ia mencontohkan kawasan Mandalika, yang meskipun telah menjadi tuan rumah ajang internasional seperti MotoGP, namun dampaknya masih cenderung terkonsentrasi di area tertentu dan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas. Menurutnya, pengembangan wisata olahraga harus dimulai dari perubahan mindset dengan mengintegrasikan berbagai medium kegiatan serta merancang dampak yang berkelanjutan.
Tarsi menjelaskan bahwa ekosistem wisata olahraga memiliki beragam kategori, mulai dari event berskala besar seperti MotoGP, maraton, dan Ironman, hingga kegiatan berbasis komunitas, edukasi, dan budaya. Integrasi antara olahraga, ekonomi kreatif, UMKM, media sosial, serta atraksi budaya dinilai menjadi kunci untuk memperluas dampak promosi dan peningkatan ekonomi daerah.
Berdasarkan data yang dipaparkan, penyelenggaraan event wisata olahraga terbukti memberikan multiplier effect yang signifikan. Pada 2025, perputaran ekonomi dari event wisata olahraga tercatat mencapai sekitar Rp170,8 miliar, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kontribusi tersebut berasal dari sektor akomodasi, konsumsi makanan dan minuman, transportasi, serta aktivitas wisata lokal yang secara langsung menggerakkan UMKM setempat.
Secara khusus, MotoGP Mandalika disebut sebagai salah satu contoh event unggulan yang mampu mendorong perputaran ekonomi hingga triliunan rupiah, meningkatkan tingkat hunian hotel, kepadatan penerbangan, serta keterlibatan UMKM di sektor kuliner, transportasi, dan produk lokal. Meski demikian, tantangan berupa harga akomodasi dan tiket yang relatif tinggi serta tekanan terhadap fasilitas publik masih menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan.






