Porosnusantara.id – Jakarta | Ketua PII Wati Jakarta periode 2024–2026, Yuyun Ukhriana, mengisi kajian bersama komunitas muslimah Smart Islamic Community (SIC) di ruang rapat Gedung Meet Her, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI. Kajian yang digelar pada Ahad (24/8/2025) ini mengangkat tema “Muslimah Merdeka, Bebas Menjadi Diri Sendiri dalam Ketaatan.”
Dalam pemaparannya, Yuyun menekankan bahwa makna kemerdekaan bagi seorang muslimah tidak identik dengan kebebasan tanpa batas. Ia mengutip pandangan budayawan Cak Nun, bahwa merdeka sejatinya adalah mengetahui batas-batas. “Merdeka bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tapi merdeka adalah tahu batas. Di situlah letak kebijaksanaan dan arah hidup kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yuyun menegaskan bahwa kemerdekaan sejati lahir dari dalam diri, bukan dari luar. “Seseorang bisa dikatakan tidak merdeka kalau masih terbawa arus ke mana-mana oleh pengaruh luar. Kemerdekaan datang ketika kita mampu berdiri tegak dengan prinsip dan keyakinan sendiri,” paparnya.
Acara yang dihadiri sekitar 16–20 peserta dari kalangan remaja SMA dan mahasiswa itu berlangsung hangat dan penuh diskusi. Yuyun mendorong para muslimah muda untuk membangun kemandirian dan kepercayaan diri sejak dini. “Perempuan harus merdeka, berdikari, dan berdaya dengan kekuatannya sendiri. Tapi tetap menjadikan agama sebagai pegangan utama,” tegasnya.
Menurutnya, masa remaja adalah masa emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menebar kebermanfaatan. “Usia kalian sekarang adalah momentum terbaik untuk berkarya, belajar, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Perempuan punya kekuatan besar yang bisa menjadi penggerak perubahan,” tambah Yuyun.
Kajian ini sekaligus menjadi ajang refleksi kemerdekaan bagi generasi muda muslimah. Dengan semangat kemerdekaan dan nilai-nilai Islam, para peserta diajak memahami bahwa kemerdekaan sejati justru lahir dari kesadaran akan tanggung jawab, bukan sekadar kebebasan tanpa arah.






