• Bukti dari topan sebelumnya dan data yang dihasilkan sangat menunjukkan bahwa ada peningkatan substansial dalam kontaminasi hilir dari Oktober 2019. Greenpeace bermaksud untuk kembali akhir tahun ini untuk menyelidiki lebih lanjut dan memperkuat hipotesis efek pelapukan utama di Fukushima.
“Titik panas radiasi yang kami temukan terdapat di area umum di sepanjang trotoar dan jalan-jalan di pusat Kota Fukushima, termasuk puluhan meter dari pintu masuk ke jalur kereta Shinkansen ke Tokyo. Titik panas yang kami temukan adalah pada tingkat yang memerlukan lisensi khusus untuk diangkut dan dalam kategori Barang Berbahaya. Pemerintah menggunakan Olimpiade sebagai platform untuk mengkomunikasikan mitos bahwa semuanya telah kembali normal di Fukushima. Mereka secara keliru mengklaim bahwa radiasi telah didekontaminasi atau terkendali. Survei radiasi kami dengan jelas menunjukkan bahwa propaganda pemerintah tidak benar,” kata Shaun Burnie, Spesialis Senior Nuklir Greenpeace Jerman.
Temuan perpindahan radioaktivitas yang mengkhawatirkan di Fukushima harus menjadi pelajaran berharga untuk negara-negara yang masih melihat PLTN sebagai solusi energi masa depan. indonesia khususnya, dimana akhir-akhir ini berkembang isu pemanfaatan energi nuklir yang belum pernah digunakan dalam skala komersial di indonesia sebelumnya.
“lndonesia negara dengan risiko bencana tinggi dan kekurangan disiplinan petugas dalam kasus penemuan limbah radioaktif di Perumahan BATAN membuat pembangunan PLTN di indonesia sama saja menyalakan bom waktu”, ungkap Dwi Sawung dari WALHI Eknas. “Kasus dibuangnya limbah radioaktif oleh pegawai BATAN di perumahan BATAN Indah, Tangsel menunjukan bahwa petugas kita masih lalai dan kelalaian itu dibiarkan bertahun-tahun tanpa hukuman yang tegas” tambah Sawung. Kemudahan dan percepatan perizinan PLTN yang tercakup dalam Omnibus Law juga menjadi kekhawatiran tersendiri ditengah tidak tepatnya pembangunan PLTN untuk kebutuhan energi lndonesia.






