Satrio Swandiko, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace lndonesia menegaskan, “lndonesia jelas membutuhkan energi yang murah untuk masyarakat Indonesia. Investasi untuk PLTN bukanlah investasi yang murah, apabila dibandingkan dengan teknologi lain, investasi pembangkit nuklir merupakan salah satu yang terbesar”. Apabila dibandingkan dengan beberapa teknologi lain, dengan biaya investasi awal (dalam bentuk overnight capital cost) sebesar 6.317 USD/kW dan biaya operasi dan maintenance sebesar 121,13 USD/kW, PLTN termasuk dalam kategori yang tertinggi.
Saat ini di Indonesia PLTN dengan teknologi Molten Salt Reactor (MSR) dengan bahan bakar Thorium sebesar 500 MW rencananya akan dibangun oleh ThorCon International yang juga telah menanamkan investasinya dalam proyek ini sebesar 17 triliun rupiah. “Ini adalah perjudian dengan risiko kerugian yang sangat besar, teknologi ini belum teruji untuk bisa beroperasi secara komersial di belahan dunia manapun. Apakah rakyat Indonesia mau dijadikan percobaan pertama disaat pilihan energi terbarukan yang lebih murah dan aman justru disia-siakan?”, tambah Satrio.
Tren global menunjukkan bahwa pembangkitan biaya listrik teraras (levelized cost of electricity/LCOE) untuk energi terbarukan seperti surya mengalami penurunan drastis dan semakin kompetitif dengan pembangkitan listrik konvensional. LCOE surya global sudah mencapai USD 32 44/lVlWh, sedangkan nuklir di kisaran USD 118 -198/MWh (Lazard, 2019). “LCOE energi terbarukan di Indonesia juga mengalami penurunan, berdasarkan analisa IESR, biaya pembangkitan listrik surya skala besar dapat mencapai USD 58,4/MWh (batas bawah), hampir menyamai PLTU supercritica/ (USD 57,7 MWh), PLTU ultra supercritica/ (USD 58,3), dan PLTU mulut tambang (USD 50,1/lVlWh). LCOE ini akan terus turun dengan perbaikan kerangka kebijakan dan regulasi, termasuk insentif untuk menghilangkan market barrier seperti feed-in-tariff dan penggunaan skema lelang terbalik yang didesain dengan baik. Dengan potensi energi surya yang berlimpah, mencapai 655 GWp untuk bangunanresidensial saja, sifatnya yang modular dan mudah dibangun di beragam lokasi; surya akan menjadi ujung tombak transisi energi di Indonesia,” Marlistya Citraningrum, Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services Reform (IESR) menyampaikan.






