Umat ini bukan hanya monopoli Umat Islam tapi tapi juga agama lain, yang dimaksud dari semua itu Ummat harus memiliki sosok keteladanan.
Tidak exrim kekiri dan kekanan melainkan Imbang, pendeta dari PGI mengatakan strategi yang paling ampuh adalah dialog lintas Agama, dialog peradaban.
Tidak ada cara lain selain dialog, Sudah banyak riset dilakukan dari 10 perguruan tinggi di Indonesia, ternyata sudah terpapar radikalisme.
Seperti UI, ITB dan lainnya pola yang dikerjakan sangat rapi sistimatis.
Rekruitmen nya sudah di mulai dari PAUD, dari penelitian bukan hanya dari murid tapi juga guru – gurunya, celah dialog peradaban itu di rambah oleh kelompok radikalisme dengan menguasai kampus.
Seperti kelompok cipayung dan agenda lainnya, dialaog yang berhasil itu dialog informal, kelompok radikal tidak punya agenda.
Masalah pada pemerintah, tidak mengabdi pada konstitusi tapi konstituen, siapa yang memenangkan ruang publik seperti media maka itu srategi untuk menghadapi radikal.
Ismail hasani dari setara Insitut
Mengatakan Rezim yang demokratik tidak mampu mengendalikan bisa memunculkan rezim lama, kemunculan ini dapat di mamfaatkan oleh kekuatan ketiga.
Kekuatan ketiga adalah kekuatan yang medorong kekuatan agama dan moralitas, apakah Tidak beragama, tidak bermoral harus di hakimi?.
Terlihat Hari ini yang bekerja bukan idiologi politik Agama yang bermoralitas, melainkan kekuatan ketiga, kekuatan ketiga ini ads di level masyarakat dan terus bekerja.
Merangsak ke celah celah ruang publik dengan perda perda yang di buat karna Ruang publik adalah politik, menggunakan power kemampuan untuk mewujudkan kehendak yang dia kehendaki.
Sehingg Menguatkan politik identitas, untuk mengembalikan harapan – harapan semua itu tidak cukup sebatas diskusi.






