Strategi Menangkal Radikalisme,  Menyelesaikan Konflik dan Membangun Dialog Lintas Agama.

“Ada yg salah kaprah antara radikal dan intoleran, intoleran blm tentu radikal, yg radikal sudah pasti intoleran”

Saat ini Pemerintah gagal menjamin intoleran, seperti penomena hijrah.

Semangat keagamaan yang tinggi tetapi bekalnya kurang, mendekati kelompok hijrah, tugas kita harus hadir menemani kelompok ini melaluo fisik dan sosial.

Di kalangan Anak muda tidak mudah, karena ada militansi yang luar biasa, kita harus menandingi militansi yang luar biasa juga.

Bapak Idris dari PBN mengemukakan
Sedik mencoba menghindar dari kata radikalisme dan ektrimisme yang Istilahnya jauh ke kiri ataw lebih jauh kekanan.

Idris Mencoba mencari definis radikalisme yang beredar itu, dan apa sebenarnya yang di takuti pemerintah saat ini, apakah dengan Menolak NKRI, tidak hormat pada bendera, tidak bernyanyi Indonesia raya apakah itu sdh di sebut radikal?.

Indiktator eztrimisme itu dengan menolak orang lain dikatakan Intoleran sedang toleransi memiliki sikap meyakini menghargai, keyakinan itu tidak bisa di goyang dengan teologi.

Toleran pasif bisa kita lihat dengan sikap cuek asal tidak mengganggu, sedang Toleran aktif itu seperti kerja sama.

Seperti melakukan kebersihan lingkungan bersama, menjaga keamanan bersama dan lainnya yang bersifat kebersamaan dan perduli.

Ada dua pintu masuknya Intoleran,
jalur kementrian Agama dan kementrian pendidikan Nasional.

Saat ini yang beredar di buku-buku pelajaran yang membias, guru – guru nya juga begitu, sehingga para pelajar yang menerima ilmu menjadi terkepung.

Saat di tanya pandangan wakil rakyat pandangan mereka berbeda sekali, di home School juga bermasalah, pandangan Parpol terhadap pendidikan Agama juga tidak terarah.

Sehingga terbengkalai oleh semua agenda mereka, intinya harus di perbaiki dengan kebijakan kebijakan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *