“Daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional terdapat di daerah Demak, Grobogan, Pati, Wonogiri, Gunung Kidul, Kulon Progo, Lamongan, Bojonegoro, Tuban dan Probolinggo. Tahun depan sudah kita alokasi bantuan pengembangan untuk 5 ribu hektar. Ini bukti keseriusan kami mengembangkan sorgum,” tegasnya.
Lebih lanjut Suwandi menyatakan yang menarik dari sorgum adalah tidak ada kandungan gluten. Sorgum kaya kandungan niasin, thiamin, vitamin B6, juga zat besi, dan mangan ini patut dikembangkan sebagai pangan alternatif yang menyehatkan.
“Ayo Konsumsi pangan lokal, cintai produksi dalam negeri , Viva Republik Indonesia. Salam dari Demak untuk Sorgum,” pinta Suwandi.
Kus, salah satu wanita tani sorgum di Desa Raji, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak mengatakan pada umumnya petani di daerahnya memproduksi sorgum sebagian dijual dan sebagian laginya digunakan untuk menjadi benih. Penanaman sorgum menggunakan sistem tunggal atau per satu lubang diberikan benih sorgum sebanyak 4 sampai 5 biji. Cara pembenihannya juga mudah, yakni sorgum yang sudah dipanen cukup dijemur terlebih dahulu kemudian pisahkan semua biji sorgum dari tangkainya, selanjutnya dijemur kembali supaya kering dan disimpan dibotol aqua.
“Setelah musim tanam tiba, biji sorgum siap untuk ditanam. Satu lubang diisi sekitar 4 sampai 5 biji per lubang. Jika terlalu banyak maka nanti khwatirnya batang rumputnya akan kecil- kecil. Dipupuk dengan menggunakan urea sebanyak 2 kali, di mana pada 1 musim tanam sekitar 3 kuwintal atau sama dengan 300 kilogram,” ujar Kus saat berdialog dengan Suwandi.
“Tanaman ini hanya cukup menggunakan pupuk urea saja. Simpel ya Pak, dipupuk seperti jagung terus dalam waktu 3 bulan sudah bisa dipanen, pupuknya cukup urea, hamanya burung serta ulat,” lanjutnya.






