Poros nusantara, Kediri (3/8) – Cabai menjadi salah satu komoditas hortikultura yang sering kali mengalami fluktuasi harga. Pada satu titik tertentu mengalami kenaikan namun tak jarang mengalami penurunan harga yang acapkali membuat resah petani dan masyarakat.
Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, saat berkunjung di Desa Tambak Rejo, Kecamatan Gurah menjelaskan pemerintah memberikan segala kebijakan yang berpihak kepada petani maupun masyarakat. Pemerintah mengalokasikan dana APBN dan APBD kepada para petani untuk menjaga stabilisasi pasokan.
Prihasto mengatakan salah satu kondisi penyebab tidak stabilnya harga cabai, dikarenakan pola tanam yang tidak tepat. Umumnya petani menanam saat waktu harga jual cabai tinggi, akhirnya saat panen bersamaan harganya jatuh. Lebih parah lagi, saat harga jatuh petani cenderung malas merawat tanaman dan akhirnya tanaman tidak berproduksi dengan baik.
Akhirnya produktivitas menurun dan harga mengalami kenaikan saat pasar membutuhkan pasokan, utamanya saat memasuki musim kemarau yang terjadi baru-baru ini.
“Banyuwangi, Tuban, Temanggung, Kediri, Blitar, Magelang, Karanganyar merupakan daerah sentra cabai. Meski sempat mengalami kendala selama masa tanam akibat kurang air, kini sudah kembali aktif bertanam dan diperkirakan pertengahan Agustus harga cabai akan kembali normal,” papar pria yang akrab dipanggil Anton ini.
Ke depan, imbuh Anton, akan dipantau pola tanam berbasis kebutuhan. Tiap daerah dipetakan berapa jumlah konsumsi yang diperlukan melalui aplikasi online. Pola ini diyakini mampu menjaga kuantitas produksi sesuai dengan besaran kebutuhan.
Peta produksi berbasis kebutuhan riil ini akan disosialisasikan ke daerah-daerah untuk memberitahukan berapa besaran pertanaman yang dibutuhkan. Dengan pemetaan tersebut, gejolak harga akibat minimnya produksi bisa dihindari.






