“Di Sawahlunto ini, kami dari arkeologi UI kan sudah 2 tahun melakukan penelitian. Bisa kami lihat, di sini sangat kaya dengan arkeologi kolonial dan arkeologi tambang batu bara. Ini temuan yang sangat berharga sebenarnya. Bisa dipelajari, ada ilmu yang bisa diperoleh dari sana. Ada kekayaan sejarah,” tutur Cecep.
Untuk kedua kalinya meneliti arkeologi ‘Kota Arang’, tim dari Jurusan Arkeologi FIB UI semester 4 angkatan tahun 2017 ini meneliti dengan lokus penelitian di area bengkel utama PT. Bukita Asam Unit Pertambangan Ombilin (PT. BA UPO), atau bertepatan dengan Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin. Di sana, mereka melakukan penggalian untuk menemukan benda – benda arkeologi.
Tak hanya untuk lokasi KKL ini saja, pihak UI juga membuka peluang lebar bagi Sawahlunto untuk melakukan kerjasama menindaklanjuti Memorandum of Understanding (MoU) Pemko Sawahlunto dengan Universitas Indonesia yang ditandatangani tahun lalu.
“Kami juga siap membantu dalam pengabdian masyarakat, memenuhi tri dharma perguruan tinggi. Kami bisa membantu mengarahkan, memberikan pertimbangan, atau dalam bentuk konsultasi dalam pengelolaan kawasan – benda arkeologi cagar budaya. Untuk peningkatan kapasitas insan museum, serta Sumber Daya Manusia (SDM) terkait pelestarian arkeologi cagar budaya lainnya, kami siap bantu dengan memberikan pelatihan, bimtek dan lainnya,” kata Cecep.
Sambutan hangat diberikan Walikota Sawahlunto, Deri Asta bersama jajarannya, yakni Dinas Kebudayaan, Permuseuman dan Peninggalan Bersejarah (DKP2B), saat menerima audiensi sekaligus pamitan 60 mahasiswa dan 6 dosen pembimbing FIB UI itu. Usai menghaturkan terimakasih, Deri menyatakan sangat mengapresiasi kerja sama dengan UI dan berjanji akan mendorong Pemko ‘Kota Arang’ untuk lebih intens lagi melakukan kerjasama dengan Universitas yang berkampus di Depok tersebut.






