Makna Kehadiran Taliban Di Indonesia

Agaknya Taliban pandai memainkan posisi tawar. Ia tahu Amerika sudah kelelahan dan lemah. Sudah saatnya Taliban pasang harga tinggi, dan harga mati – tak bisa ditawar. Taliban pasang harga mati bahwa semua pembicaraan damai harus dengan syarat seluruh pasukan asing hengkang dari bumi Afghanistan. Jika tidak, perang akan terus berlanjut.

Syarat ini bagus banget. Ia benar secara Islam, karena penjajah kafir harus dilawan dan dipaksa pulang. Benar pula secara nasionalisme, karena siapapun yang cinta Afghan tak akan rela buminya dijajah oleh pasukan asing. Sehingga Taliban lebih mendapat dukungan, baik dari kalangan Islam maupun nasionalis. Narasinya lebih lebih masuk akal.

Sementara pemerintah boneka, yang dipimpin Ashraf Ghani itu, justru minta Amerika bertahan. Sebab boneka akan rapuh tanpa Amerika. Poin ini menjadi titik lemah narasi mereka, lantaran akan ditolak kalangan Islamis dan ditenteng kalangan nasionalis. Karenanya kian tak populer. Apalagi jika Amerika benar-benar pergi. Boneka akan seperti layangan putus benang.

Melihat dilema seperti ini, Amerika akhirnya memilih pragmatis. Padahal dulu datang dengan jumawa. Laksana penguasa alam semesta. Kini tak mampu untuk sekedar berkelit dari tekanan Taliban, apalagi melawan Taliban.

Amerika melunak. Ia bersedia duduk berunding dengan Taliban. Dan ini juga bagian dari syarat yang diminta Taliban, yaitu tak mau berunding dengan boneka, maunya dengan si tuan. Taliban mau berunding dengan boneka hanya jika si tuan telah pergi. Nah lo. Pusing kan.

Sejak awal 2019 rangkaian perundingan telah dihelat. Lokasinya di Doha, Qatar. Nah kini Amerika ingin melibatkan Indonesia untuk membantu menjembatani dialog. Wajar, karena Indonesia dianggap simbol negara muslim dengan penduduk terbesar. Selain karena Indonesia bisa diterima Taliban sebagai saudara seiman, dan diterima Amerika sebagai mitra penting di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *