Afghanistan sebagai negara, terbelah dua. Sebagian kecil teritorialnya dikuasai pemerintah yang dipimpin Ashraf Ghani. Ditopang kekuatan militer Amerika. Karenanya lebih tepat disebut boneka. Sebagian lain, mencakup teritorial lebih luas, dikuasai Taliban. Kekuasaannya berakar kuat. Didukung masyarakat. Mengambil posisi musuh bagi Amerika dan bonekanya. Selama 18 tahun terakhir.
Amerika tampaknya sudah kelelahan dalam perang marathon melawan Taliban. Bukannya melemah, Taliban makin kuat dan mencaplok lebih banyak teritorial Afghanistan. Selain karena Amerika sudah tidak lagi fokus melawan teroris. Ia kini lebih asyik perang melawan China. Dan menguras banyak tenaga dan biaya.
Dilema bagi Amerika. Jika mau hengkang dari Afghanistan, seharusnya penerus kekuasaan yang diridhai Amerika adalah bonekanya. Tapi kan lemah. Tak berdaya melawan Taliban. Maka Amerika tak bisa lari dari fakta, bahwa penguasa Afganistan yang paling siap melanjutkan pemerintahan hanya Taliban.
Jika Amerika hengkang, pemerintah boneka akan segera hilang ditelan Taliban. Perang selama 18 tahun dengan kerugian ribuan nyawa dan trilyunan dolar biaya, harus berakhir menyedihkan. Musuh yang amat dibenci akhirnya menang.
Dilema ini yang hendak diurai Amerika. Ia ingin segera pulang, tapi tetap dengan kepala tegak. Atau minimal pura-pura tegak. Atau ingin pulang tapi jangan Taliban yang berkuasa. Atau jika harus berkuasa, jangan menjadi basis kekuatan umat Islam dunia. Atau jangan menjadi pangkalan untuk meluncurkan serangan ke negara lain.
Amerika ingin Taliban dan pemerintahan boneka di Afghanista bersekutu dalam membangun negara bersama. Sehingga menjamin pengikat persatuannya tetap nasionalisme – bukan Islam, ideologinya tetap Liberalisme – bukan Islam, dan politiknya tetap Demokrasi – bukan Islam. Tentu saja, konstitusinya juga gado-gado – jangan Islam.






