Ketua Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM): Adat dan Budaya di Sawahlunto Harus Dijaga dan Dilestarikan

Maka, Adi Muaris menyatakan bahwa seluruh unsur niniak mamak siap mendukung warisan budaya dunia dari UNESCO pada Sawahlunto ini, untuk itu maka dia juga meminta Pemko untuk selalu menjalin koordinasi dengan para pemangku adat dan agama.

“Tentu yang merumuskan sampai mengeksekusi kebijakan, apakah itu program atau pembangunan fisik, adalah Pemko. Sementara kami, siap membantu dalam memberikan pertimbangan maupun arahan – arahan sesuai adat, agama dan budaya,” ujar Adi Muaris.

Hal senada turut disuarakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sawahlunto, H. Darmuis. Disebutkannya, status yang ditetapkan UNESCO pada ‘Kota Arang’ itu harus dimanfaatkan hal – hal kebaikan yang terbawa seiring ‘world heritage’ itu, namun tentu harus siap juga menyaring jika ada hal – hal yang tidak baik dan tidak sesuai norma agama dan adat yang berlaku di Sawahlunto.

“Status warisan dunia dari UNESCO ini kan menyangkut pelestarian sejarah dan budaya pertambangan batubara Ombilin maupun Sawahlunto secara umum. Dalam Islam, menjaga dan melestarikan sejarah juga dianjurkan. Sebab sejarah itu mengandung ibroh (pelajaran) yang harus menjadi renungan kita. Sebab hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, salah satu pengingat tentang hari kemaren ya dari sejarah itu,” kata Darmuis.

Sementara menyambut bakal meningkatnya kunjungan wisatawan sebagai dampak langsung dari status world heritage itu, Darmuis mengingatkan agar dalam menyambut tamu, maka sesuai panduan Islam dalam menyambut tamu, masyarakat diajak untuk saling hormat – menghormati.

“Wisatawan itu adalah tamu kita. Dalam agama kita sudah diajarkan bagaimana ramah tamah dan penghormatan menyambut tamu. Selagi masih dalam kewajaran dan mereka juga menghormati, menghargai kita maka tentu kita juga wajib memberikan penghormatan dan penghargaan,” ajak Darmuis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *