“Beberapa aspek penting mulai dari penyiapan benih, aspek budidaya maupun dalam penanganan pasca panen terutama dalam mempertahankan kesegaran bunga,” ujar Setiono.
Aspek lain dalam upaya peningkatan pendapatan petani dengan mengolah bunga menjadi minyak turut disampaikan Ida Fitriani Kepala Seksi Teknologi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar. Rangkaian bimtek dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke kebun melati di Desa Jingah Habang Ilir – Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.
“Pengolahan melati menjadi minyak urut maupun minyak angin aromatherapi bisa menjadi sumber pendapatan tambahan petani,” ujar Ida.
Di kebun tersebut terdapat pertanaman melati umur sekitar 5 tahun seluas sekitar 3.000 m2. Benih diambil dari stek tanaman melati yang dibudidaya untuk produksi bunga. Kondisi pertanaman cukup subur, Lahan bersih, namun ada serangan opt di beberapa tanaman terutama trips. Pupuk yang digunakan adalah mutiara ditambah urea. Panen dapat dilakukan setiap hari kira-kira 200 gelas (20 gelas bunga melati kurang lebih 1 kg).
Harga rata-rata per gelas sekitar Rp 2500 – 3000 dengan angkos panen Rp 1000 per gelas. Apabila permintaan tinggi maka harga per gelas sekitar Rp 10 ribu dan ongkos panen Rp 3 ribu.
Kunjungan juga dilakukan untuk melihat proses meronce melati. Proses perendaman melati dengan air es belum pernah dilakukan di Kabupaten Banjar.
“Dalam menjaga kesegaran bunga melati, maka perlu melakukan perendaman dengan air es selama 2- 3 jam, setelah itu ditiriskan. Bunga yang sudah ditiriskan dapat dironce atau langsung di jual dengan menyimpan dalam kantong plastik dan diseimpan dalam styroform yang ditambahkan dengan es agar melati tetap segar,” ujar Setiono.






