Pemantauan Pasar Jangan Hanya Jelang Hari Raya Keagamaan Semata

Nilai ekspor NTT pada Tahun 2017 lebih kecil yakni hanya sekitar Rp 6,4 triliun dibandingkan dengan nilai impor yang mencapai Rp. 52,5 triliun. Nilai impor yang besar ini disumbangkan oleh bahan makanan jadi, bahan konstruksi, transportasi, sandang dan energi. Ada peluang untuk menyeimbangkan neraca perdagangan  sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menggenjot bidang pariwisata, memaksimalkan komoditas pertanian lahan kering, peternakan, perikanan, perkebunan, kerajinan dan pertambangan.

tpid1

Pada tempat yang sama Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Mariatje Pattiwaellapia menyatakan kecenderungan inflasi di NTT terus menurun dan berada di bawah rata – rata nasional. Tahun 2017, inflasi di NTT hanya sekitar 2 persen, di bawah rata – rata nasional sebesar 3,61 persen. Pada triwulan pertama tahun 2018, tren ini terus bertahan. Bahkan pada bulan Maret, kita mengalami deflasi sebesar 0,43 persen. Kemungkinan di bulan April, potensi deflasi masih besar. Sementara bulan Mei, ada potensi kenaikan sedikit karena memasuki masa puasa bagi umat muslim. Keadaan ini tidak boleh membuat kita lengah, harus terus ditingkatkan koordinasi antara tim. Khususnya untuk komoditi beras, ikan, telur ayam dan bahan makanan lainnya serta tarif angkutan udara, harus terus dijaga kestabilan harganya karena berpotensi menyumbangkan inflasi. Maritje juga menambahkan,  wilayah sampel inflasi di NTT akan menjadi tiga kota yakni Kota Kupang, Maumere dan Waingapu.
Sementara itu, Kepala Bulog Divre NTT, Efdal Marilius Sulaiman, menjamin stok beras untuk 3,6 bulan ke depan masih aman. Ada juga penambahan stok beras yang sedang dalam perjalanan ke NTT. ” Pendistribusian Bansos Rastra (Bantuan Sosial Beras Sejahtera) juga sangat mempengaruhi stok beras di NTT. Rastra ini merupakan bentuk operasi pasar terbesar dari Bulog. Kalau pendistribusiannya lancar, operasi pasar juga akan semakin sedikit. Sampai dengan April ini, pendistribusian Rastra baru mencapai 60 persen. Untuk stabilisasi harga pangan, kami juga mengadakan Rumah Pangan Kita. Di NTT, ada sekitar 1.000 Rumah Pangan. Selain beras, kami juga melakukan operasi pasar untuk komoditas bawang, gula pasir, minyak goreng serta tepung terigu “,  jelas Efdal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *