Puspayoga menambahkan, bahwa Indonesia akan bisa mengejar dan menyamai rasio kewirausahaan Malaysia yang kini berkisar 5 persen. Dia menargetkan pada periode 2019 akan berhasi menyamai, ”Saya optimis ini akan tercapai pada 2019 mendatang,” katanya.
Mahasiswa sebagai generasi milenial imbuh Menkop, pada umumnya memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi wirausaha atau entrepreneur. Dimana ciri generasi milenial itu antara lain, memiliki kepercayaan diri dan kreativitas yang tinggi, serta jaringan yang luas. “Ini adalah ciri-ciri seorang entrepreneur, tinggal dipoles sedikit saja maka jadilah ia entrepreneur,” jelasnya.
Tetapi Menkop juga menggaris-bawah generasi milenial ini pun memiliki kelemahan. Diantaranya tidak begitu suka menabung, cenderung lebih suka ke kafe atau kongkow sambil main gadget, dari pada kegiatan posistif lainnya, semisal ke perpustakaan membaca buku yang bisa menunjang aktivitasnya.
Hal-hal seperti itu kata dia harus diperbaiki. Mereka dituntut agar mampu merubah kelemahan menjadi satu kelebihan. “Kalau itu bisa dilakukan maka saya optimis generasi milenial akan jadi generasi yang produktif,” katanya.
Sementara Billy Boen sang pendiri Young On Top juga membagikan tips kepada mahasiswa maupun generasi milenial yang ingin berwirausaha. Kata dia ada beberapa hal yang perlu dihindari yaitu, jangan mengikuti tren, jangan copy-paste, dan jangan mendirikan startup diri sendiri. “Saya punya patner bisnis lebih dari satu orang, karena ketika kita mengalami down saat business plan gagal, kita dapat berdiskusi dengan patner bisnis untuk membantu kita,” ujarnya.
Dengan demikian kolaborasi sangat penting untuk para calon entrepreneur dalam meniti awal bisnisnya. Kolaborasi diperlukan agar dapat menguasai pasar. Billy juga berpesan agar tidak menaruh semua uang yang dimiliki dijadikan modal. Sebab, jika gagal akan mengakibatkan depresi. Lebih baik kata dia, 10-20% uang yang diinvestasikan untuk modal.






