Panca mengatakan bahwa dirinya berharap agar kegiatan kebudayaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam bentuk hiburan dan edukasi, tetapi juga melalui terbukanya kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha.
Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan semangat gotong royong, kreativitas, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Mengajak Seluruh Elemen Bangsa Mengambil Bagian
Menjelang pelaksanaan kegiatan pada 23–25 Oktober 2026, Panca Nur kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan memperkuat kebersamaan dan kepedulian terhadap masa depan kebudayaan Indonesia.
Ia berharap para tokoh adat, tokoh budaya, budayawan, seniman, akademisi, generasi muda, komunitas masyarakat, dan pelaku UMKM dapat mengambil bagian sesuai peran masing-masing.
Baginya, menjaga kebudayaan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu. Keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, media, dan masyarakat luas memiliki tanggung jawab yang sama dalam memastikan nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup dan diwariskan.
“Marilah kita rajut kembali kesadaran berbudaya. Kita jaga warisan leluhur, kita hormati keberagaman, dan kita wariskan nilai-nilai luhur Nusantara kepada generasi penerus. Mari kita jaga harmoni budaya untuk harmoni bangsa, demi Indonesia yang bersatu, rukun, dan bermartabat,” tegas Panca.
Melalui rangkaian peringatan Hari Budaya Nasional tersebut, Gerakan Sadar Budaya berharap tumbuh semangat baru untuk merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, mengembangkan kreativitas, dan menempatkan kebudayaan sebagai salah satu fondasi penting dalam menjaga persatuan Indonesia.
“Sebab, kebudayaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan tentang membangun masa depan depan yang menghormati perbedaan, menjunjung nilai kemanusiaan, dan menjaga Indonesia tetap harmonis di tengah keberagaman,” pungkas Panca Nur.






