Porosnusantara.co.id | Jakarta – Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menggelar rapat kerja yang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat Betawi, jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pengurus organisasi kemasyarakatan, serta para pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini menjadi forum konsolidasi sekaligus penguatan peran masyarakat Betawi dalam mendukung pembangunan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada budaya lokal.
Ketua Umum Bamus Betawi, Riano P. Ahmad, mengatakan rapat kerja tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas para pengurus dan ketua kelompok masyarakat Betawi dalam memahami perkembangan regulasi, arah pembangunan Jakarta, serta berbagai persoalan yang dihadapi ibu kota.
“Yang penting adalah bagaimana kita memberikan peningkatan kapasitas kepada para pengurus dan ketua kelompok terkait perkembangan ibu kota, regulasi terbaru, serta berbagai persoalan yang ada di Jakarta,” ujar Riano dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan komitmen Bamus Betawi dalam mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur penguatan kelembagaan adat Betawi melalui pembentukan Majelis Kaum Betawi.
Riano turut mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap masyarakat dan budaya Betawi. Menurutnya, sejumlah kebijakan yang memberi ruang bagi putra-putri Betawi untuk menempati posisi strategis di pemerintahan merupakan bentuk keberpihakan terhadap budaya lokal.
“Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga identitas budaya Betawi sebagai budaya asli Jakarta,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Bamus Betawi, Fauzi Bowo, menekankan pentingnya persatuan masyarakat Betawi dalam menghadapi tantangan pembangunan Jakarta ke depan. Ia menilai Bamus Betawi menjadi instrumen penting dalam memperkuat persatuan sekaligus menjaga harkat, martabat, dan marwah budaya Betawi.
“Kalau kita bersatu, banyak hal yang bisa kita lakukan bersama untuk kebaikan Jakarta dan masyarakat Betawi,” ujarnya.
Fauzi juga mengajak masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah sebagai ajang perbaikan diri menuju arah yang lebih baik.
“Berhijrah dari yang kurang baik menjadi lebih baik merupakan tantangan sekaligus kewajiban kita semua sebagai umat Islam,” tegasnya.
Dari unsur pemerintah, Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, menegaskan bahwa visi Jakarta sebagai kota global harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya Betawi.
Ia menilai budaya Betawi harus mampu tampil sebagai budaya lokal yang mendunia tanpa kehilangan identitas aslinya.
“Budaya Betawi harus menjadi budaya lokal yang mendunia, bukan budaya Betawi yang kehilangan jati dirinya karena mengikuti budaya luar,” ujarnya.
Ali juga menekankan pentingnya semangat inklusivitas dalam pembangunan Jakarta, di mana seluruh warga yang tinggal di ibu kota harus merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kota ini, sementara masyarakat Betawi tetap menjadi tuan rumah yang mampu merangkul seluruh elemen.
Selain itu, ia mengajak seluruh pihak mendukung gerakan “Jaga Jakarta” sebagai program kolaboratif untuk menjaga lingkungan, kebersihan, dan kualitas hidup di ibu kota.
“Jakarta tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah atau masyarakat Betawi saja, tetapi oleh seluruh warga yang merasa memiliki kota ini,” katanya.
Rapat kerja Bamus Betawi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat sinergi antara masyarakat Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya dalam menyongsong lima abad Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.
Acara berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan, ditandai dengan komitmen para peserta untuk terus menjaga identitas budaya Betawi sebagai bagian penting dari masa depan






