Gebyar Kebaya Semarakkan Hari Kebaya Nasional 2026, Dorong Generasi Muda Bangga Berbudaya

Senada dengan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si. menegaskan bahwa kebaya merupakan simbol perjalanan perempuan Indonesia yang sarat dengan nilai kesederhanaan, keanggunan, ketangguhan, kesantunan, gotong royong, serta penghormatan terhadap budaya.

Menurut Menteri PPPA, perempuan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pendidik pertama dalam keluarga yang memiliki peran penting membentuk karakter anak. “Menjaga budaya bukan berarti menolak perubahan. Budaya harus terus hidup, berkembang, dan dekat dengan generasi muda agar tetap relevan sepanjang zaman,” ujar Arifatul.

Menurutnya, anak-anak Indonesia perlu mengenal kebaya bukan karena kewajiban, melainkan karena rasa bangga terhadap budaya bangsanya. Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini. Seorang ibu yang mengenalkan kebaya kepada putrinya, seorang ayah yang mengajak anak mencintai budaya daerah, maupun guru yang memperkenalkan keberagaman budaya di sekolah, sejatinya sedang membangun fondasi karakter bangsa.

Menteri PPPA mengajak seluruh masyarakat menjadikan kebaya sebagai simbol persatuan dalam keberagaman, sekaligus memberikan dukungan kepada para penenun, pembatik, desainer, pengrajin, serta pelaku UMKM yang menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.

Melalui peringatan Hari Kebaya Nasional 2026, Perkumpulan Kebaya Menari dan Perempuan Berkebaya Indonesia berharap kebaya semakin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, tidak hanya sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai simbol karakter, kebanggaan nasional, dan perekat persatuan bangsa. Semangat “Cinta Budaya, Bangga Berkebaya” diharapkan terus tumbuh di hati anak-anak Indonesia sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.*

Penulis: Rudi c

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *