Gebyar Kebaya Semarakkan Hari Kebaya Nasional 2026, Dorong Generasi Muda Bangga Berbudaya

“Perjuangan PBI tidak berhenti setelah kebaya ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional maupun diakui UNESCO. Tantangan kita sekarang adalah memastikan kebaya tetap hidup, dikenakan, dicintai, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia,” ujar Rahmi.

Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada PBI yang dinilai berhasil menghubungkan pelestarian kebaya dengan pendidikan karakter generasi muda. Menurut Prof. Warsito, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan simbol jati diri bangsa yang mencerminkan keanggunan, martabat, dan kekuatan perempuan Indonesia.

“Kebaya Nusantara adalah bagian dari identitas bangsa. Anak-anak perlu mengenalnya sejak dini agar mereka tumbuh dengan rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Pelestarian kebaya harus menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari masyarakat,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kebaya telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda melalui mekanisme joint nomination. Karena itu, pengakuan internasional tersebut harus diikuti dengan komitmen seluruh elemen bangsa untuk terus melestarikannya.

Prof. Warsito juga mendorong pemerintah daerah menetapkan satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk mengenakan kebaya dan busana adat Nusantara sebagai bagian dari budaya kerja sekaligus teladan bagi masyarakat.

Lebih lanjut, ia berharap PBI terus berkembang menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat karakter bangsa melalui budaya, khususnya dengan menjangkau generasi muda melalui sekolah, kampus, dan komunitas.

Penulis: Rudi c

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *