Pertamax dan Kebijakan Tambal Sulam Pemerintah

SPBU Pertamax. seumber: istimewa

Hal krusial lain yang memberi kontribusi signifikan adalah pemerintah tidak memiliki Political Will yang cukup kuat untuk membangun kilang sehingga permintaan BBM impor terus meningkat. Jika pemerintah mau maka pemerintah dapat mengalokasikan dana APBN untuk membangun kilang yang diharapkan dapat mengoptimalkan produksi dalam negeri dan mengurangi impor.

Islam memiliki solusi yang efektif dan efisien sebagai panduan dalam mengurusi hal ini. Tugas utama negara adalah mengurusi dan melayani rakyat bukan berdagang dengan rakyat Hubungan yang harus dibangun adalah hubungan yang melayani dan meringankan beban rakyat bukan berdagang dengan logika untung rugi. Hal ini sejalan dengan sabda Baginda Nabi Muhammad Saw, yang menyatakan :

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam Khalifah adalah raa in pengurus pelayan rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al Bukhari).

Negara juga harus memberikan perlindungan kepada rakyat, menjadi junnah perisai bagi rakyat di tengah gempuran ideologi kapitalisme liberal, negara harus menjadi pelindung bagi rakyat dengan mengambil sejumlah kebijakan proteksi untuk menyelamatkan nasib rakyat.  Organisasi negara sebagai organ kekuasaan wajib menjaga dan melindungi rakyat, bukan malah menyerahkan leher rakyat pada mekanisme ekonomi pasar yang melayani kepentingan kapitalis oligarki.

Seluruh problem ekonomi yang dihadapi negara semestinya dapat diselesaikan ika negara mengambil Islam sebagai solusi sehingga kekayaan alam Indonesia yang melimpah dapat memberi dampak kesejahteraan bagi rakyat bukan hanya menguntungkan segelintir kelompok oligarki.

desain pengelolaan ekonomi terutama penguasaan negara atas seluruh harta jenis milik umum (al Milkiyatul Ammah harus segera dilakukan untuk menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia, sekaligus dalam rangka menunaikan tugas negara sebagai pelayan dan pelindung bagi rakyat. Hal ini sejalan dengan sabda Baginda Nabi Muhammad Saw :

Penulis: Imas Yahya (Aktivis Muslimah Jakarta)Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *