Porosnusantara.co.id | Jakarta – PT Duta Anggada Realty Tbk menilai pelemahan daya beli masyarakat akibat fluktuasi nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perseroan. Hal tersebut karena sebagian besar pendapatan maupun kewajiban perusahaan menggunakan mata uang rupiah.
Sekretaris Perusahaan PT Duta Anggada Realty Tbk, Aka, mengatakan perseroan yang bergerak di sektor perkantoran, perhotelan, dan ritel tidak memiliki utang dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS), sehingga risiko yang ditimbulkan akibat pergerakan kurs relatif terbatas.
“Sebagian besar pendapatan kami dalam rupiah dan utangnya juga dalam rupiah, sehingga dampak dari fluktuasi kurs tidak terlalu besar terhadap perusahaan,” ujar Aka dalam paparan publik di Jakarta.
Meski demikian, Aka mengakui kondisi ekonomi nasional dan daya beli masyarakat tetap berpengaruh terhadap tingkat permintaan di sektor properti, khususnya pada bisnis perhotelan dan perkantoran yang bergantung pada aktivitas pelanggan maupun pelaku usaha.
Terkait rencana belanja modal (capital expenditure/capex), perseroan menyatakan belum memiliki agenda pembangunan proyek baru sepanjang 2026. Sejak pandemi Covid-19, perusahaan memilih menunda ekspansi dan memfokuskan sumber daya untuk mengoptimalkan aset yang telah dimiliki.
“Kami masih fokus pada proyek-proyek yang sudah ada, terutama perkantoran, ritel, dan hotel. Untuk pembangunan proyek baru saat ini belum ada rencana,” kata Aka.
Menurutnya, sektor perhotelan dan perkantoran merupakan segmen yang paling terdampak selama masa pandemi. Karena itu, perusahaan saat ini lebih memprioritaskan peningkatan tingkat okupansi serta optimalisasi pendapatan dari aset yang telah beroperasi.
Dari sisi kinerja keuangan, PT Duta Anggada Realty Tbk masih mencatatkan rugi bersih sehingga belum memiliki rencana untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham dalam beberapa tahun ke depan.
Aka menjelaskan, kerugian yang masih dialami perseroan terutama dipengaruhi oleh tingginya beban utang perusahaan. Meski demikian, secara operasional kinerja usaha menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Secara kinerja sudah mulai membaik. Pendapatan relatif stabil dibandingkan tahun lalu, hanya turun kurang dari satu persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, penurunan pendapatan terutama berasal dari bisnis perhotelan yang sempat terdampak kebijakan efisiensi belanja pemerintah. Namun demikian, perseroan optimistis kondisi tersebut akan berangsur membaik seiring meningkatnya aktivitas ekonomi.
Untuk tahun 2026, strategi utama perusahaan adalah meningkatkan kinerja aset yang telah berjalan, khususnya pada segmen perkantoran dan hotel yang dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan.
Sementara itu, terkait kemungkinan diversifikasi usaha, manajemen menyatakan belum memiliki rencana ekspansi ke bidang bisnis lain dalam waktu dekat. Fokus perusahaan tetap berada pada tiga lini usaha utama, yakni perkantoran, ritel, dan perhotelan.
“Kami berharap kondisi ekonomi membaik, nilai tukar lebih stabil, dan konflik global dapat mereda sehingga dapat mendukung pemulihan sektor properti,” tutup Aka.






