Dalam perspektif dakwah, kondisi ini juga menjadi tantangan serius. Islam mengajarkan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak dan penuh hikmah, sebagaimana terkandung dalam An-Nahl 125. Namun jika mahasiswa sebagai generasi intelektual kehilangan daya kritisnya, maka siapa yang akan menjaga kualitas pemahaman dan penyampaian kebenaran itu sendiri?
Pertanyaannya bukan lagi apakah mahasiswa sudah tidak kritis, tetapi apakah kita secara sadar telah memilih untuk tidak kritis. Kenyamanan, distraksi, dan arus informasi yang deras seringkali membuat kita berhenti bertanya, berhenti membaca, dan berhenti berpikir.
Sudah saatnya mahasiswa kembali pada jati dirinya. Bukan sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi produsen gagasan. Bukan hanya mengikuti arus, tetapi berani melawan ketika arus itu salah arah.
Menjadi kritis memang tidak nyaman. Tetapi tanpa ketidaknyamanan itu, tidak akan pernah lahir perubahan.






