Porosnusantara.co.id | Di tengah riuhnya media sosial hari ini, satu pertanyaan penting muncul: apakah mahasiswa masih menjadi agen perubahan, atau justru telah berubah menjadi penonton yang sibuk menggulir layar?
Dulu, mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang vokal, kritis, dan berani menyuarakan kebenaran. Sejarah mencatat bagaimana peran mahasiswa begitu besar dalam berbagai momentum penting bangsa. Namun hari ini, realitas tampak berbeda. Kritik sering kalah oleh konten viral, diskusi ilmiah tergeser oleh tren hiburan, dan idealisme perlahan digantikan oleh kenyamanan.
Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Media sosial sebagai medium utama komunikasi telah mengubah cara berpikir dan bertindak generasi muda. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Marshall McLuhan, “the medium is the message”—media bukan hanya alat, tetapi juga membentuk cara manusia memahami dunia. Dalam konteks ini, mahasiswa tidak hanya menggunakan media sosial, tetapi juga dibentuk oleh algoritma yang lebih mengutamakan sensasi daripada substansi.
Akibatnya, muncul generasi yang lebih cepat bereaksi daripada berpikir. Opini dibentuk dari potongan informasi, bukan dari proses analisis yang utuh. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang lebih percaya pada narasi viral dibandingkan fakta yang telah diverifikasi. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip jurnalisme yang dikemukakan oleh Bill Kovach, bahwa kewajiban utama adalah pada kebenaran.
Lebih jauh lagi, kenyamanan juga menjadi faktor yang tidak kalah besar. Dunia digital menawarkan ruang aman yang membuat seseorang bisa “terlihat peduli” tanpa harus benar-benar terlibat. Cukup dengan membagikan ulang konten, memberi komentar, atau mengikuti tren, seseorang sudah merasa menjadi bagian dari perubahan. Padahal, perubahan sejati menuntut keberanian, pengorbanan, dan konsistensi.






