Secara khusus saya sampaikan kepada bapak Kapolri bahwa terjun payung itu penting karena bisa saja sewaktu waktu diperlukan dalam penugasan, kita masih menghadapi banyak bencana alam, gangguan keamanan dan keadaan geografis. Bisa saja suatu saat kita perlu kemampuan terjun payung untuk menerjunkan dokter, paramedis di daerah bencana atau juga pasukan yang kawal bantuan pangan pada saat terjadi bencana alam. Kemudian saya sarankan terjun payung statik diganti dengan terjun payung “free fall”, di luar dugaan bapak Kapolri setuju bahwa terjun payung boleh dilaksanakan.
“Pada 1 Juli 2007, terjun payung didemokan dalam acara HUT Bhayangkara di depan Presiden dan Kapolri dalam wadah Persatuan Terjun Payung (PTP) Polri dan kebetulan saya yang mendesain logonya. Saya masih ingat waktu menggunakan aplikasi Coreldraw,” jelasnya.
Kemudian dilakukan penyusunan AD/ART PTP Polri yang disusun oleh Sersan Satu A. Fauzi dan jadilah logo serta AD/ART yang disetujui Kapolri.
Setelah demo dalam wadah PTP Polri, Kapolri menyetujui pengadaan parasut pertama sejumlah 100 parasut pada tahun 2009. Itulah awal kebangkitan kembali terjun payung Polri.
Dalam setiap demo terjun payung PTP Polri berusaha selalu hadir untuk menunjukkan eksistensi, karena eksistensi itu penting untuk menunjukkan keberadaan PTP Polri. Kita tampil di sosial media untuk mempublikasikan bahwa PTP Polri itu ada dan dilakukan sampai hari ini.
“Seiring dengan perkembangannya, capaian prestasi PTP Polri mampu menjuarai PON, kejuaraan nasional, internasional dan semakin berprestatasi. Petinggi Federasi Aerosport Indonesia melihat PTP Polri sebagai klub yang aktif dan cepat maju dan saya sebagai personifikasinya, lalu saya didapuk sebagai Wakil Ketua Komite Terjun Payung Indonesia, dengan SK terbaru 2024 saya menjadi wakil ketua II Komite Terjun Payung Indonesia, klub sipil ini salah satu yang paling aktif di Indonesia,” ungkapnya.






