KOMITMEN DAN KOLABORASI UNTUK MELINDUNGI PENANGANAN KEKERASAN SEXSUAL TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK UNTUK PERGAULAN BEBAS

  • Bagikan

Jakarta, porosnusantara.co.id- Setelah hampir empat dekade, persoalan HIV ada di republik Indonesia sejak tahun 1987, telah hadir begitu banyak perubahan, perkembangan teknologi serta pengobatan dan pemutakhiran Informasi baik dalam hal pencegahan, pemeriksaan, penanganan, perawatan hingga dukungan yang berkelanjutan. Meskipun Indonesia sempat hanya berfokus pada kelompok populasi kunci dikarenakan trend penularan yang terpusat pada kelompok tersebut dalam waktu yang lama, pemikiran tentang pentingnya segera melakukan perlindungan pada perempuan dan anak akhirnya muncul.

Kemajuan dalam mengurangi transmisi HIV dari ibu ke anak, secara berkala di mulai pada 2001 di Nigeria dan Indonesia baru memulainya pada tahun 2006: yang sebagian besar dorongan ini lahir karena adanya peningkatan akses layanan yang berkaitan dengan PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak) dan peningkatan angka perempuan dengan HIV yang mengalami kehamilan, serta banyaknya angka kelahiran anak yang hidup dengan HIV.

Berdasarkan estimasi global yang dikeluarkan UNAIDS, perempuan menanggung beban HIV dan AIDS yang menjadi penyebab utama kematian perempuan usia reproduktif. Perempuan hamil yang terinfeksi HIV mempunyai risiko lebih besar mengalami komplikasi kehamilan seperti komplikasi karena infeksi, infeksi penyerta termasuk TBC, pneumonia, dan meningitis karena sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Berdasarkan data kaskade tes dan pengobatan HIV Indonesia yang dilaporkan ke UNAIDS, hingga akhir 2022 hanya 179,659 dari estimasi 540,000 (3396) ODHIV yang tercatat sedang menjalani terapi pengobatan ARV Hal ini tidak hanya menyebabkan retensi pengobatan menjadi tantangan besar namun memperbesar pula resiko terjadinya penularan baik dari sesama orang dewasa ataupun dari Ibu kepada anak yang akan dilahirkannya. Karena data UNAIDS pada tahun 2022 menunjukkan secara nasional, hanya 189 dari seluruh ibu hamil dengan HIV yang menerima obat antiretroviral untuk mencegah penularan dari ibu ke anak. Di Jakarta, cakupannya bahkan lebih rendah lagi (1596). Data ini menunjukkan gap yang sangat besar dari target 955 yang tercantum dalam Global AIDS Strategi. Gap ini menyoroti perlunya komitmen yang lebih besar untuk memastikan bawah pengobatan menjangkau setiap individu yang membutuhkan termasuk ibu hamil.

Setelah hampir empat dekade, persoalan HIV ada di republik Indonesia sejak tahun 1987, telah hadir begitu banyak perubahan, perkembangan teknologi serta pengobatan dan pemutakhiran Informasi baik dalam hal pencegahan, pemeriksaan, penanganan, perawatan hingga dukungan yang berkelanjutan. Meskipun Indonesia sempat hanya berfokus pada kelompok populasi kunci dikarena kan trend penularan yang terpusat pada kelompok tersebut dalam waktu yang lama, pemikiran tentang pentingnya segera melakukan perlindungan pada perempuan dan anak akhirnya muncul.

Kemajuan dalam mengurangi transmisi HIV dari ibu ke anak, secara berkala di mulai pada 2001 di Nigeria dan Indonesia baru memulainya pada tahun 2006: yang sebagian besar dorongan ini lahir karena adanya peningkatan akses layanan yang berkaitan dengan PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak) dan peningkatan angka perempuan dengan HIV yang mengalami kehamilan, serta banyaknya angka kelahiran anak yang hidup dengan HIV.

Berdasarkan estimasi global yang dikeluarkan UNAIDS, perempuan menanggung beban HIV dan AIDS yang menjadi penyebab utama kematian perempuan usia reproduktif. Perempuan hamil yang terinfeksi HIV mempunyai risiko lebih besar mengalami komplikasi kehamilan seperti komplikasi karena infeksi, infeksi penyerta termasuk TBC, pneumonia, dan meningitis karena sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Berdasarkan data kaskade tes dan pengobatan HIV Indonesia yang dilaporkan ke UNAIDS, hingga akhir 2022 hanya 179,659 dari estimasi 540,000 (3396) ODHIV yang tercatat sedang menjalani terapi pengobatan ARV Hal ini tidak hanya menyebabkan retensi pengobatan menjadi tantangan besar namun memperbesar pula resiko terjadinya penularan baik dari sesama orang dewasa ataupun dari Ibu kepada anak yang akan dilahirkannya. Karena data UNAIDS pada tahun 2022 menunjukkan secara nasional, hanya 189 dari seluruh ibu hamil dengan HIV yang menerima obat antiretroviral untuk mencegah penularan dari ibu ke anak. Di Jakarta, cakupannya bahkan lebih rendah lagi (1596). Data ini menunjukkan gap yang sangat besar dari target 955 yang tercantum dalam Global AIDS Strategi. Gap ini menyoroti perlunya komitmen yang lebih besar untuk memastikan bawah pengobatan menjangkau setiap individu yang membutuhkan termasuk ibu hamil.

Meskipun berdasarkan data kumulatif dari kementerian kesehatan hingga September 2022 menunjukan perbedaan signifikan angka kasus HIV pada laki-laki 290,262 (63,796) dan perempuan 168,599 (36,396): hal ini tidak membuat resiko pada perempuan menjadi menurun. Karena berdasarkan fakta Perempuan lebih rentan tertular HIV baik secara faktor biologis juga faktor sosial. Maka jika lalai dan tidak mendapatkan perhatian penuh dalam melihat situasi ini, perempuan akan semakin rentan mendapatkan HIV serta menularkan HIV kepada anak yang dilahirkannya.

Penularan HIV secara vertikal pada anak dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui, dimana seorang ibu yang berisiko tertular HIV belum atau tidak didukung untuk tetap negatif HIV. Atau jika perempuan hamil positif HIV, mereka kesulitan untuk tetap mengakses perawatan dan pengobatan yang efektif.

Maka dengan situasi-situasi tersebut di atas, sangat penting untuk kita bekerja dan berfokus pada persoalan perempuan dan anak secara holistik, mulai dari upaya pencegahannya, memaksimalkan pemeriksaan pada ibu hamil, melakukan pengobatan pada mereka yang terdeteksi positif, melakukan deteksi dini pada bayi yang lahir dari ibu HIV serta dukungan non medis lainnya yang juga sangat berpengaruh pada kehidupan sosial dan kesejahteraan perempuan dan anak.

Maka dengan semangat melahirkan komitmen dan kolaborasi untuk mendorong perlindungan perempuan dan anak dari penularan HIV dan kesakitan, serta mendorong percepatan tercapainya triple eliminasi Maka EMTCT Simposium ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia pada Senin-Selasa 27-28 November 2023 di Royal Kuningan Hotel.

Pertemuan ini diharapkan dapat memper kuat upaya eksplorasi, kolaborasi serta komitmen antara pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, para peneliti serta komunitas yang Secara perlahan bergerak menuju rencana peningkatan program EMTCT di Indonesia, maka kami turut mengundang seluruh narasumber baik dari Indonesia maupun dari Negara Asia lainnya, serta para dan tamu undangan yang akan berkontribusi dalam eliminasi HIV,Sifilis dan Hepatitis B. 

(Sulistyo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *