Budidaya ini kalau kita sudah menggunakan teknik Booster tidak berputar seperti Kincir Booster menghasilkan nano oksigen, kemudian dari sistem pipa pengairan itu kalau menggunakan Kincir itu hanya 20 cm di atas permukaan saja yang ada oksigen kalau menggunakan ini bisa sampai dengan kedalaman terendah itu semuanya mengandung oksigen sehingga pada tebar yang semula kita hanya 250 sampai dengan 1500 s.d 2000 ekor per meter persegi.
Sehingga kapasitas kolam dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga biaya produksi biaya perawatan biaya listrik pemanfaatan lahan itu akan maksimal dan juga usia sampai dengan ukuran besar cukup dengan waktu hanya 3 bulan berbanding dengan konvensional 4 bulan jadi harapan kita dimulai dari sekarang kita sudah berlatih tentang budidaya udang vaname secara konvensional ke depan setelah kita mendapatkan dukungan INAP Mini dari TNI AL.
Ke depan kita memproyeksikan kalau berhasil Insyaallah kita akan coba ajarkan kepada masyarakat nelayan yang ada didesa ini, kita cari atas manfaatnya yang terbaik bagi masyarakat sehingga masyarakat Aceh semakin baik nantinya semakin bagus untuk kesejahteraannya.
Karena memang tidak semua wilayah Indonesia bisa untuk budidaya udang vaname namun kita lihat di sini banyak sekali potensi diantara Aceh Timur, Bireuen kemudian Aceh Utara yang membudidayakan udang vaname secara konvensional artinya secara kualitas air lahan kemudian juga rantai suplai logistik maupun penjualan tenaga kerja tenaga ahli tersedia di sini jadi kalau kita menggunakan teknologi yang lebih baik Insyaallah hasil produksi akan meningkat itu harapan kita dari angkatan laut agar angkatan laut ini khususnya bisa bermanfaat bagi masyarakat yang ada di Aceh.






