“Tetapi saya juga pernah mengalami kekalahan pada tahun 2014, di mana ketika itu saya berpasangan dengan Dr. H. A. Muhammad Yusuf Mahmud, M.Si.
Pengalaman mengikuti kontestasi pilkada sebanyak tiga kali dengan hasil yang berbeda-beda ini memberi banyak pelajaran berharga. Menang tetapi menjadi wakil, tidak banyak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengabdikan diri kepada daerah, apalagi ketika kalah. Jadi intinya: Kita harus menang,” tegasnya.
Amran Mahmud mengatakan, dari banyaknya proses Pilkada yang sudah berlangsung di Indonesia hingga sekarang, maka tampaknya para pelaku politik sudah memiliki patron dalam menyusun strategi.
Pada umumnya, strategi yang digunakan tetap sama. Walaupun tetap harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat di mana event politik itu berlangsung. dalam upaya memengkan pertarungan politik, strategi umum yang lazim digunakan adalah Marketing Politik dan Kampanye Politik. Marketing Politik.
Setelah berhasil meraih kemenangan dan menduduki jabatan politik yang ada, maka upaya selanjutnya adalah bagaimanamempertahankannya hingga mencapai dua periode. Mengapa dua periode?
Karena periodisasi yang terputus tidak akan banyak meninggalkan jejak yang berarti kepada masyarakat. Adapun strategi yang harus diterapkan, tentu berbeda dengan sebelumnya, Disamping tetap menggunakan Marketing Politik dan Kampanye Politik, personal branding perlu dijaga dengan amat hati-hati, karena jika hal ini rusak atau hancur, maka tidak akan bisa diperbaiki lagi.
Yang kedua, berusaha menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan regulasi yang ada. Saat menjadi kepala daerah, kita menjalankan dua dimensi kepemimpinan. Dimensi pertama adalah sebagai Pemimpin Birokrasi yang harus memahami regulasi birokrasi mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan.






