Poros Nusantara, Mataram – Dalam rangka implementasi Perpres No. 9 Tahun 2019 Tentang Pengembangan Taman Bumi, khususnya terkait dengan pengembangan SDM guna mendukung Pariwisata Taman Bumi (Geopark) dan untuk mendorong percepatan sertifikasi kompetensi SDM. Persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah di Gunung Rinjani diharapkan dapat tertangani secara berkelanjutan. Sebab ini merupakan geopark dunia, dimana pengunjungnya sudah berekspektasi tentang destinasi yang berstandar dunia pula. Berarti harus bersih dan resik. ( 05/08/2019)
Hari ini (5/08) Kepala Bappeda Provinsi NTB Ir. Wedha Magma Ardhi. MTP membuka Bimbingan Teknik (Bimtek) Pemandu Geowisata TNGR yang dilaksanakan bersama oleh Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi NTB. Sementara peserta Bimtek sendiri dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HTI), Pokja Simbalun, Timbanuh, Senaru dan Aikberik.
Besok (6/08) Direktur Eksekutif GiF Asrul Hoesein akan memaparkan strategi ” mengelola dan mengolah ” sampah TNGR dengan cara bijak tanpa ada pelarangan membawa dan memakai kemasan – kemasan berbahan plastik dalam kunjungan wisata dan/atau pendakian Gunung Rinjani.
Sebait kalimat klise mengatakan bahwa ” merebut lebih mudah dari pada mempertahankan”. Demikian adanya pada Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yang telah mendapatkan dua predikat internasional dari UNESCO, berupa Unesco Global Geopark (UGG) Network dan juga sebagai Cagar Biosfer dunia, pada tahun 2018.
Gunung Rinjani ditetapkan sebagai Global Geopark oleh UNESCO, maka menjadi Taman Bumi Global ketiga yang ada di Indonesia, selain Batur Geopark di Bali serta Gunung Sewu Geopark yang terletak di tiga provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Gunung Rinjani juga ditunjuk menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan Asia Pasific Geopark Network Symposium pada September 2019. Diperkirakan sekitar 2.000 peserta dari berbagai negara akan menghadiri kegiatan ini.






