Peluang dan Ancaman Sampah Gunung Rinjani di NTB

TNGR harus dipastikan pengelolaannya dengan benar, hal sampah yang menjadi paling utama. Pengelolaan sampah menjadi barometer semua kegiatan. Kualitas tanaman atau pohon dalam kawasan TNGR agar terpelihara dengan baik. Sehingga kualitas lingkungan tercapai demi kenyamanan bagi pengunjung termasuk pada pendaki gunung.

Ada yang kenal Gunung Rinjani ?

Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah kota Mataram dan kabupaten: Lombok Timur,  Lombok Tengah dan Lombok Barat serta memiliki luas sekitar Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.

Gunung Rinjani merupakan puncak tertinggi ketiga di Indonesia yang menjulang hingga ketinggian 3.726 mdpl di Lombok ini adalah salah satu gunung tercantik di Indonesia setelah Gunung Kerinci Jambi dan Cartenz Puncak Jaya Papua.

Pasca gempa bumi melanda Lombok pada pertengahan tahun 2018, membuat aktivitas pendakian Gunung Rinjani sempat terhenti dengan alasan keamanan karena banyak longsoran membuat pendakian Rinjani ditutup serta dibuka kembali pada bulan Juni 2019.

Gunung Rinjani dianggap sebagai pendakian bintang 5 yang cantik dan kereen. Juga merupakan tempat persemayaman Ratu Jin Dewi Anjani ini adalah tempat wisata dengan paket super lengkap. Mulai dari indahnya Desa Sembalun di kaki gunung yang jadi pintu gerbang pendakian Rinjani hingga hamparan padang savana berbukit yang memberikan sensasi berada di dunia Teletubbies. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pengelola TNGR termasuk pada pemda dimana berada TNGR. Namun kelihatannya belum ada solusi yang berkelanjutan dalam mengelola sampah TNGR tersebut. Persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah di Rinjani juga diharapkan dapat tertangani. Sebab ini merupakan geopark dunia, dimana pengunjungnya sudah berekspektasi tentang destinasi yang berstandar dunia.Green Indonesia Foundation (GIF) melalui Kementerian Bidang Kemaritiman bersama Kementerian Pariwisata memberi solusi penanganan sampah TNGR tanpa harus melarang membawa dan menggunakan kemasan plastik sekali pakai naik mendaki atau memasuki kawasan TNGR. Barang – barang bawaan para pengguna (wisatawan dan pendaki) hanya perlu diperiksa, dikurangi potensi sampahnya lalu dihitung total harga barang bawaannya. Nilai barang itu menjadi uang jaminan sampah. Setiap wisatawan atau pendaki gunung, tidak seragam nilai jaminan sampah yang dititipkan pada pengelola kawasan melalui bank sampah TNGR yang menyusul akan/harus dibentuk oleh pengelola TNGR bersama masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *