Bahkan sejak tahun 2016, Kementan mulai menginisiasi 125 Hektare pengembangan buah komersial dengan pola kemitraan dan inti plasma antara kelompok tani dengan swasta. Ke depan model pengembangan kawasan seperti ini akan direplikasi ke daerah lain, jelas Liferdi. Pada tahun 2019 ini, Kementan juga telah memulai pengembangan buah di lahan perhutanan sosial yaitu pengembangan durian seluas 10 Hektare di Kabupaten Pemalang. Pemanfaatan lahan perhuatan sosial untuk pengembangan agrowisata buah tentunya akan semakin memberikan nilai tambah terhadap buah nasional, tambahnya.
Tidak hanya peningkatan produksi, perbaikan mutu mutlak diperlukan dalam mendorong ekspor. Terobosan program penerapan GAP juga perlu terus ditingkatkan. Dengan begitu, pada tahun 2019 hingga tahun-tahun berikutnya Liferdi yakin buah Indonesia semakin siap menjadi primadona di mancanegara, tidak hanya di Asia tetapi juga di negara-negara Eropa.






