Bila Thailand dikenal durian Chanee, Montong dan Kan Yao, Malaysia dikenal durian D24, Musangking dan ke depan favorit Ochee, maka Indonesia favorit dengan durian Petruk, Matahari dan kedepan favorit durian Pelangi. Durian lokal punya peluang ekspor yang cukup besar karena memiliki kualitas yang tak kalah dengan durian yang berasal dari negara lainnya. Buktinya, durian asal Indonesia telah menembus ke pasar manca negara seperti Hongkong, China, Malaysia, Vietnam, Singapura, Saudi Arabia hingga Belanda.
Liferdi, Direktur Buah dan Florikultura yang juga baru dilantik bersamaan dengan Direktur Jenderal Hortikultura menambahkan bahwa produksi dan ekspor durian setiap tahun mengalami kenaikan. Berdasarkan data BPS, sebelumnya neraca perdagangan durian defisit, namun 2018 sudah surplus. Pada 2017 mencapai 795 ton dan ekspornya sebesar 240 ton. Di tahun 2018, produksi dan ekspor durian mengalami kenaikan yang cukup drastis yakni produksinya sebesar 819.654 ton dan ekspor 1.086 ton.
Tidak hanya durian, Liferdi menjelaskan pada 2018, ekspor salak naik 28 persen atau sebesar 1.233 ton dibandingkan 2017 yaitu sebesar 965 ton. Mengacu data BPS tersebut, adapun negara tujuan ekspor salak yakni China, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Timor Leste, Belanda, Qatar, Hongkong, Jerman dan Inggris.
Melihat ekspor buah yang semakin menggeliat setiap tahunnya, Liferdi semakin memantapkan kebijakan peningkatan produksi dan mutu buah nasional melalui program pengembangan kawasan buah dan penerapan GAP (Good Agriculture Practices).
Tidak kurang dari 6000 Hektare setiap tahunnya Kementan mengembangkan kawasan buah-buahan yang menjadi prioritas yaitu jeruk, mangga, manggis, pisang, durian, dan buah-buahan lainnya seperti lengkeng, nenas, salak dan buah naga di berbagai daerah sentra produksi. Melalui program ini, Liferdi berharap bahwa produksi buah nasional akan semakin meningkat sehingga dapat mencukupi kebutuhan konsumsi buah dalam negeri maupun ekspor.






