Pendidikan dan Arogansi Logika Pasar

Penulis : Imas Yahya (aktivis Muslimah Jakarta)

Kondisi ekonomi yang tidak stabil menghantam masyarakat di berbagai lini kehidupan, terutama untuk masyarakat golongan menengah ke bawah. Biaya hidup sehari-hari yang semakin mencekik, terasa bertambah menghimpit saat menjelang tahun ajaran baru. Para orang tua berjibaku mencari dan mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan anak-anak yang jumlahnya tidak kecil. (https://www.kompas.id/artikel/tahun-ajaran-baru-orangtua-tak-hanya-pusing-biaya-tapi-juga-susah-cari-sekolah; 26/06/2026)

Tidak hanya itu, mereka juga berjuang untuk mencari sekolah yang terbaik dan sesuai dengan isi kantong, terlebih saat ini diberlakukan sistem zonasi untuk sekolah-sekolah negeri. Para orang tua jelas menginginkan pendidikan berkualitas untuk putra putrinya yang tidak selalu tersedia di area tempat tinggal mereka.

Sebagai gambaran, biaya yang dibutuhkan untuk masuk ke sekolah negeri berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000 tergantung pada jenjang sekolah dan perlengkapan yang disediakan. Biaya itu meliputi seragam sekolah, buku Pelajaran, perlengkapan belajar, Iuran bulanan (SPP) yang masih diberlakukan di beberapa sekolah negeri, serta sejumlah dana untuk kegiatan ekstrakurikuler dan MOS. Tentu saja, untuk sekolah swasta biayanya bisa berkali lipat.

Pendidikan sudah sepatutnya menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan sebab ilmu adalah salah satu modal utama untuk menciptakan masa depan yang cemerlang. Ilmu, jika diibaratkan perlengkapan untuk seorang prajurit maju di medan perang, maka ilmu tidak hanya berfungsi sebagai senjata untuk menyerang, tetapi sekaligus berfungsi sebagai perisai untuk melindungi diri. Dalam kehidupan yang semakin individualistis ini, kemampuan kita untuk menyerang seharusnya linear dengan kemampuan bertahan kita. Musuh-musuh utama kita seperti kebodohan, kemiskinan, kelaparan, keterbelakangan dalam urusan teknologi, dan berbagai tantangan lainnya insya allah dapat kita atasi dengan ilmu dan pendidikan. Dua komponen ini pula yang mampu selalu menjaga kita untuk berfikir rasional dan menjauhkan diri dari hal-hal instan yang dapat menjerumuskan kita kepada hal-hal yang merugikan kita, keluarga, dan lingkungan seperti bermain judi, narkoba, dan hal-hal destruktif lainnya.

Penulis: Imas YahyaEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *